dulu, di rumah lama gw, tepat di pohon jambu di halaman depan, ada ‘rumah pohon’. sebenarnya kata rumah pohon sendiri tidak tepat, lebih tepat… tempat nongkrong di atas pohon.
whateverlha.. gw lebih suka menyebutnya sebagai rumah pohon.
ketika gw melihat ada sisa-sisa kayu, ada ide muncul di otak, kenapa tidak membuat rumah pohon saja seperti kwak, kwik dan kwek di majalah donal bebek itu? iya, gw dari dulu sangat ingin sekali memiliki rumah pohon, yang sewaktu-waktu bisa menjadi tempat menyindiri ketika penyakit gw kambuh (berimajinasi tinggi seakan-akan sedang berpetualang).
mencoba-coba sendiri, menggergaji saja tidak becus, akhirnya gw pasrah atas ketidakbecusan itu, gw naik ke atas pohon, tali pramuka gw ikat di salah satu dahannya, lalu gw buat ayunan.
untungnya ada sepupu gw yang jauh lebih tua dari gw, melihat gw sedang sibuk sendiri. sepertinya dia tahu kalau gw putus asa. menawarkan bantuan dan menanyakan mau dibuat apa kayu-kayu ini, dengan senang hati gw jawab “rumah pohon!”
dasar anak kecil tidak tahu diri! memang dari kayu yang hanya segini bisa membuat rumah pohon yang mirip dengan imajinasimu? mungkin itu yang dia pikirkan.
akhirnya kita sepakati hanya membuat tempat duduk di atas sana. ah tak apa-apalah, yang penting gw bisa berada di tempat yang tinggi dengan semilir angin yang menyejukkan.

selesailah ‘rumah pohon’ itu, walaupun terlihat rapuh namun begitu mencobanya tenyata kokoh juga. memang hebat sepupuku ini. bentuknya memang tidak seutuh rumah pohon yang biasa kita definisikan, tapi hanya terdiri dua papan kayu, yang satu sebagai sandaran dan yang satu sebagai alas kita duduk. tingginya? sekitar 8 meter, cukup untuk mendongakkan kepala lebih dari 60 derajat untuk melihatnya tepat dari bawah.
kadang-kadang ketika jenuh di dalam kamar, gw bawa komik atau buku ke ‘rumah pohon’ itu. membaca di tempat itu benar-benar menyenangkan, dengan angin pantai di siang hari yang terik, dedaunan pohon jambu air yang menghalangi sinar matahari, atau ketika sedang musimnya, kita tinggal memanjat lebih tinggi lagi untuk mendapatkan jambu air yang berwarna merah, yang telah matang. nikmatnya.
ketika capek membaca dengan posisi duduk, rebahkan tubuh juga menambah nikmat membaca apalagi lingkungan komplek rumah gw tidak begitu ramai, ditambah halaman rumah yang cukup luas untuk dilihat, seakan-akan dari ‘rumah pohon’ itu gw bisa melihat seluruh pelosok komplek perumahan gw.
kalau sedang tidak mood membaca, gampang, tinggal melamun saja, nikmat kok melamun di ‘rumah pohon’. suasana mendukung.
atau ketika gw bermain dengan agung, tetangga gw, kita bermain sebagai robinson crusoe atau bajak laut atau perang-perangan atau permainan yang melibatkan memanjat pohon.
sayangnya, ketika keluarga gw pindah dari rumah itu, gw harus meninggalkan ‘rumah pohon’ itu. suatu waktu, gw melewati rumah gw itu, sayang sudah tidak ada ‘rumah pohon’ itu, sepertinya yang menempatinya kurang menyukainya.
memiliki rumah pohon adalah impian ke 6 dalam hidup gw. gw ingin suatu saat nanti ketika gw sudah berkeluarga, gw dan anak-anak gw bermain di rumah pohon, memainkan imajinasi petualangan kita.