Berani Menanggung Resiko?
 

Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat menciptakan sebuah sejarah yaitu Brasil sebagai pemenang piala dunia dan Itali sebagai runner-upnya. Finalnya ditentukan dengan hasil tendangan penalti setelah 2 x 90 menit dan perpanjangan waktu, skor masih tetap sama, 0 – 0.

Tahukah anda, bagaimana cara Brasil menjuarai piala dunia? Bagi anda yang belum tahu, Brasil memenangkannya karena Roberto Baggio gagal memasukkan bola dari titik penalti. Ketika dia mengambil tendangan ternyata bola jauh melayang ke atas mistar gawang. Baggio tertunduk lesu dan seluruh masyarakat Itali menyalahkannya.

Tahukah anda, persentase bola masuk ke gawang akibat tendangan penalti adalah 80%. Jadi bisa dibilang sebagian besar tendangan penalti pasti masuk, sisanya 20% adalah sialnya si penendang atau beruntungnya si kiper. Jadi wajar saja kalau seantero warga Itali menyalahkan Baggio. Ya, semua membencinya, semua mencacinya dan menganggapnya sebagai pecundang.

Tapi, saya menemukan suatu hal yang membuat saya yakin bahwa Baggio adalah seorang pemain besar dan seorang pemain juara. Dia berkata demikian

“Yang bisa membuat tendangan penalti meleset hanyalah orang yang memiliki keberanian untuk melakukan tendangan penalti”

Ya, Baggio berani mengambilnya dan dia bertaruh dengan dirinya, dalam lima menit ke depan dia akan membentuk sejarah untuk dirinya sendiri, sebagai pahlawan Itali atau sebagai pecundang. Ternyata dia tidak seberuntung itu tapi tetap dia adalah seorang yang berani mengambil resiko.

Jadi, beranikah anda mengambil sebuah resiko? Walau anda belum tahu ke depannya anda akan dicap sebagai pemenang atau pecundang? Tidak akan pernah ada kata pecundang untuk seorang yang berani mengambil resiko, pecundang adalah untuk orang yang tidak mengambil tindakan apa-apa dan menyalahkan orang lain.

Roberto Baggio

Masih Malu?
 

Salah satu abang saya pernah mengikuti pelatihan entrepreneurship yang diadakan Institut Kemandirian Republika. Dia bercerita tentang salah satu kelas prakteknya yaitu berjualan roti di KRL ekonomi.

Abang saya yang seorang lulusan sarjana ekonomi perguruan tinggi negeri ini jelas-jelas saja malu harus berjualan roti. Bayangkan saja, kuliah selama empat tahun, menimba ilmu di sana ternyata harus menjajakan roti yang (maaf) tidak sesuai dengan dirinya. Mungkin kita bisa membayangkan kelas praktek yang cocok untuk dirinya adalah praktikum me-manage suatu perusahaan, bukan menjajakan roti.

Akhirnya dengan malu dan ogah-ogahan, abang saya menjajakan roti. Dari gerbong ke gerbong. Dari satu KRL ke KRL lain. Dari pagi hingga sore, layaknya pedagang asongan. Wajahnya yang tampan sangat tidak cocok untuk pekerjaan itu ( sumpah.. abang saya ini ganteng sekali :D ).

Hasil menjajakan roti dari pagi sampai sore ternyata hanya laku sedikit…

Ketika waktunya evaluasi kelas, abang saya hanya diam, tertunduk malu melihat roti yang dijajakannya hanya laku sedikit.

Seorang ibu yang merupakan tentor ( ternyata seorang wirausaha sukses ) melihat abang saya tertunduk, mencoba mendekatinya.

“Pak Edwin kenapa rotinya cuman laku segini?”

“Iya bu, maaf… saya malu bu. Saya seorang lulusan sarjana ekonomi harus berjualan roti seperti ini. Saya malu…”

Si ibu tersenyum dan kemudian menepuk bahu abang saya.

“Kalau dengan malu kamu bisa sukses, kaya dan bahagia, saya juga mau ikutan malu seperti kamu”, ucapnya sambil berlalu meninggalkan abang saya.

Abang saya tersadar dengan ucapan ibu itu.

Besoknya kembali praktikum menjajakan roti di KRL-KRL ekonomi. Abang saya sudah tidak malu lagi. Dan hasil berjualan roti hari itu sukses besar, semuanya laku terjual. Abang saya berhasil.

Ternyata kelas praktikum kali ini bukan mengajarkan bagaimana cara berjualan roti tapi untuk melatih mental.

Jadi, kalau dengan malu kamu bisa bahagia, sukses dan kaya, saya mau ikutan malu. :)

Luweng Jomblang (Lagi)
 

Entah kenapa malam ini saya tiba-tiba mengenang perjalanan caving ke luweng jomblang dan hebatnya lagi saya menemukan thread di kaskus yang isinya membicarakan tentang luweng grubuk yang memang terhubung dengan luweng jomblang…. coba baca ini (luweng grubug.. serem tp dalemnya keren)

Sumpah.. semuanya seperti sudah diatur agar saya bisa mengenang perjalanan ke luweng jomblang… ahhh…

Oke.. untuk pengenalan, luweng jomblang adalah sebuah gua vertikal dengan lebar mulut entrance sekitar 60 meter dan kedalaman berkisar 60-80 meter tergantung dari titik rigging. Untuk menuruni luweng jomblang ini, terdapat empat titik rigging.

jomblang by google map

luweng jomblang yang bulat hitam dan luweng grubug ada di utaranya

entrance jomblang

Menuruni luweng jomblang yang vertikal, kita bisa gunakan satu set SRT (single rope technique). Saya ada cerita ketika eksplorasi luweng jomblang ini. Ketika saya sudah sampai di dasar dan sedang istirahat, tidak jauh dari hadapan saya, syuuuttttt…. bletakkkkk, jammer jatuh dari atas. Waduh… ternyata jammer bagus, teman seangkatan saya, jatuh ketika dia sedang akan turun.

“Wah… Ayam bakar nih ntar pulang!”, teriak saya kegirangan dan dari atas terdengar si bagus misuh-misuh. Iya, kami memiliki denda bagi orang yang lalai, semakin besar kelalaiannya semakin besar dendanya ( ya makan-makan itu :D )

Begitu sampainya di dasar luweng jomblang, di sebelah baratnya akan kita temukan lorong yang sangat besar. Lorong tersebut yang akan menghubungi luweng jomblang dengan luweng grubuk.

lorong antara jomblang dan grubug

lorong antara luweng jomblang dan luweng grubug

( sumber : kaskus.us )

Lorong tersebut sangat-sangat besar. Ketinggiannya ada sekitar 20 meter dan lebar sekitar 30 meter. Panjang lorong berkisar 100 meter.

Begitu kita sampai di luweng grubug, terdengar sayup-sayup bunyi arus sungai. Terus berjalan masuk.. kita akan disambut dengan keindahan luweng grubug…. sunbeam dan flowstone-nya yang sangat-sangat indah. Saya yang pertama kali masuk tidak bisa menahan decak kagum…. Embun-embun sungai naik ke atas, sehingga menghasilkan uap yang semakin membuat indah sunbeam yang masuk melalui entrance luweng grubug… Subhanallah…

sunbeam

sunbeam yang indah…

( sumber : flickr.com )

flowstone

flowstone di luweng grubug

( sumber : flickr.com )

Sejenak saya terpana ketika melihat semuanya… seolah-olah luweng grubug menjadi ruang pameran sekumpulan karya seni. Ya… semuanya indah…

Namun di balik keindahannya itu, ternyata ada sejarah gelap. Luweng grubug dulu dijadikan sebagai tempat pembuangan anggota PKI. Dulu ketika munculnya gerakan pembasmian PKI 1966, setiap anggota PKI yang tertangkap dilempar dari atas, dari ketinggian 100 meter. Dalam sehari, dua-tiga truk pengangkut anggota PKI keluar masuk ke kawasan luweng grubug. Saya pernah lihat videonya dan memang di dalam luweng grubug ini ditemukan kerangka-kerangka manusia. Ahh.. sudahlah.. anggap saja itu sebagai sisi misteri luweng ini.

Luweng yang memiliki ketinggian 100 meter ini di dalamnya terdapat aliran sungai. Bahkan bisa dijadikan sebagai sarana rafting. Serukan? rafting dan caving satu paket.

Alhamdulillah-nya, sudah ada biro wisata yang bisa mengatur kegiatan ke jomblang dan grubug. Silahkan baca kalisucicavetubing. Sesekali berliburlah ke tempat ini, saya jamin kalian bakal ditakjubkan dengan karya seni Tuhan ini.

saya di dasar luweng grubug ( sesekali narsis lha )

NB : Dan gilanya lagi, kebetulan mengenang-kegiatan-caving ini terus berlanjut. Tadi setelah barcelona vs inter, di globalTV ada eksplorasi luweng jaran pacitan dengan anak-anak ASC ( mas raymond, mas dicky, mas sigit dan mas uchie ).. wew… saya kangen mereka

saya sedang rindu caving…

Yeah, I’m Mobile!
 

Yeah yeah yeah!

Setelah sukses menginstall plugins wordpress mobile, sekarang untuk teman-teman yang ingin buka blog sampah ini bisa melalui handphone anda.

*setelah menerima keluhan mengapa susah sekali membuka blog ini dari handphone

Hari Ini
 

Meminjam kata-kata dari blognya Rizky Darmayanti.

Cerita ini seperti tersesat dalam labirin

Kisah yang tak lagi terkatakan

Saya tambah ya

Seperti setiap kata yang keluar dari bibir, tapi tak bisa terucapkan

Setiap huruf yang diketik di layar telepon genggam, namun tak terkirimkan

Setiap kata yang sudah dirangkai indah di dalam otak, tapi tersumbat di tenggorokan

………………………


*sori ki, saya benar-benar sedang mengalami depresiasi menulis

Ayo Berbicara
 

Tersebut suatu kisah, seorang anak yang kabur dari rumahnya, yang tidak tahan akibat tekanan orangtuanya.

Dia tidak suka dengan apa yang dipilihkan orangtuanya.

Dia tidak suka dengan apa yang direncanakan orangtuanya.

Yang dirasakannya hanyalah dia tidak bisa menikmati apapun yang ada, karena semuanya bukan yang dia suka.

Selama bertahun-tahun, yang dia jalani adalah apa yang orang tuanya mau, bukan apa yang dia inginkan. Dia lalui hari demi harinya dengan hampa. Semuanya hanya dijalankan demi memuaskan orangtuanya, bukan untuk memuaskan dirinya.

Kosong.. itu yang dia rasakan. Tapi sayang, dia tidak bisa mengutarakan apa yang dia inginkan, karena dia takut kalau-kalau nantinya menyakiti orangtuanya.

Hingga akhirnya, suatu hari, dengan uang saku bulan itu dan beberapa helai baju, dia tinggalkan rumah itu. Dia tinggalkan kamarnya, yang dia rasa sudah hampa dari dulu.

Dia pergi, entah kemana.. yang penting jauh dari kedua orangtuanya.

Ketika orangtuanya mendapati dia telah pergi dan mereka menemukan buku catatan hariannya, barulah mereka sadar apa yang sebenarnya terjadi.

Mereka menyesal… kenapa anaknya tidak berbicara apapun kepada orangtuanya.

Di satu sisi, si anak khawatir kalau nanti orangtuanya tersakiti dengan apa yang dia inginkan.

Sedangkan di sisi lain, mereka sang orang tua, tidak tahu apa-apa. Tidak tahu apa yang si anak inginkan.

……………

Ayo berbicaralah, dari hati ke hati. Tuhan mengajarkan kita bagaimana cara berkomunikasi agar di antara makhluknya bisa saling mengerti dan memahami. Ceritakanlah apa yang kamu mau, apapun itu semua.

Ayo, mari duduk dan kita berbicara sepuasnya, dari hati ke hati.

Phil Collins – Seperate Lives
 

You called me from the room in your hotel
All full of romance for someone that you met
And telling me how sorry you were, leaving so soon
And that you miss me sometimes when you’re alone in your room
Do I feel lonely too?

You have no right to ask me how I feel
You have no right to speak to me so kind
We can’t go on just holding on to time
Now that we’re living separate lives

Well I held on to let you go
And if you lost your love for me, well you never let it show
There was no way to compromise
So now we’re living (living)
Separate lives

Ooh, it’s so typical, love leads to isolation
So you build that wall (build that wall)
Yes, you build that wall (build that wall)
And you make it stronger

Well you have no right to ask me how I feel
You have no right to speak to me so kind
Some day I might (I might) find myself looking in your eyes
But for now, we’ll go on living separate lives
Yes for now, we’ll go on living separate lives
Separate lives

============================================================

Saya lagi suka sekali lagu-lagu tahun 80-90an

Terima kasih phil collins untuk malam ini

Maafkan saya :)

Kerja Adalah Ibadah, Menikah Adalah Ibadah, Pilih Mana?
 

Beberapa bulan yang lalu, saya dan teman saya, Arif, iseng-iseng main ke SMA saya dulu. Dengan tampang yang bisa dibilang sukses *cuih bah! tampang doang kita mah :D , makan sianglah kami di sana.

Selesai makan di kantin yang banyak menyimpan sejarah itu, kami iseng-iseng berkeliling sekolah, mungkin saja kami bertemu guru yang masih mengenal kami. Maklum sudah enam tahun.

Kami bertemu guru agama kami, Pak Wirto namanya. Kami bersalaman, cium tangannya. Alhamdulillah beliau masih mengenal nama saya.

“Ini Ridwan kan?”, ahh.. mendengar dia masih mengingat nama saya, ada sedikit bangga di hati.

Basa basi bla-bla-bla mengenai kuliah dimana, sudah lulus, sekarang kerja apa. Tiba-tiba beliau menembak kami

“Gimana, jadi kapan kalian mau nikah?”, saya dan Arif hanya bisa tertawa kecil. “Nanti lah pak”

“Loh kenapa? Calon sudah ada? Kalau belum ada bapak carikan adik kelas kalian. Kalian berdua Alhamdulillah udah ada pekerjaan. Tunggu apalagi. Umur juga cocok menikah, jangan kayak bapak, umur 28 baru menikah, kasihan anak-anak kalian nantinya”

Dan percakapan berikutnya yang membuat saya berfikir hingga sekarang…

“Apa masalah rezeki? Dengar ya.. Allah itu maha baik, maha pemurah, maha penyayang. Sekarang kalian kan masih single, tentu Allah ngasih rezekinya ya buat kalian sendiri. Tapi nanti kalau kalian sudah menikah, Allah pasti menyesuaikan rezeki, bukan buat kalian sendiri tapi juga untuk anak istri kalian. Gak mungkin Allah menelantarkan ketika kalian berkeluarga nanti.”

Deg.. benar juga…

Saya sudah sering mendapati cerita, ketika sebuah keluarga yang kondisi finansialnya sudah hampir defisit, tiba-tiba ada saja titik balik yang bisa mengangkat mereka.

Menikah adalah ibadah.. bukan sebagai pemberat hidup.

Yah.. Insya Allah, saya sudah menargetkan diri. Kapan wan? Hehehe.. urusan saya dengan Allah dulu deh yang tahu :D