Believe
 

 

Seringkali kau bertanya dengan sedikit kesal,

“Mengapa kamu tidak pernah mengekangku? ”

“Mengapa kamu tidak posessif dalam memilikku?”

“Mengapa kamu tidak pernah cemburu padaku ketika aku keluar dengan teman laki-lakiku lainnya?”

Dan banyak pertanyaan lain yang tentang kenapa aku sama sekali tidak posesif

 

Aku? Siapa aku?

Aku hanya orang yang baru saja hadir dalam hidupmu, belum genap setahun malah. Aku baru hadir di duniamu, dunia yang selama 25 tahun kau jalani. Itu alasan pertama.

Alasan kedua, aku mencintaimu dan sangat mempercayaimu. Di awal hubungan kita, sudah kupaparkan terms and agreements tentang kita. Aku bisa mengizinkanmu apa saja asalkan dengan alasan yang bisa kuterima. Aku bisa dan dengan mudah mempercayaimu. Tapi seperti yang sudah kukatakan di awal, begitu sekali saja terpatahkan kepercayaan itu maka tidak pernah ada kesempatan kedua :) .

Aku takkan pernah mengekangmu, tapi hanya memintamu untuk bisa membagi waktu dan menjaga kepercayaan.

Aku takkan pernah mengkerdilkan impian dan cita-citamu, tapi memintamu untuk bisa memenuhi hak dan kewajibanmu kelak.

Aku takkan pernah mengukung duniamu dan semua impiannya, tapi akan selalu menjadi rumah untukmu ketika kau lelah mengejarnya.

Kalau kau tanya apakah aku mencintaimu, akan kujawab “pasti kau tahu sendiri jawabannya fl:)”

 

image from here

Bookmark and Share
Berbuatlah Sesukamu
 

Suatu saat, berkumpulah Kong Zi  ( Confusius ) bersama murid-muridnya di bawah pohon rindang. Murid-muridnya duduk mengelilingi sang guru, menunggu pelejaran yang akan disampaikannya. Pelajaran yang sedang mereka bahas adalah mengenai moral.

“Murid-muridku, pelajaran hari ini adalah berbuatlah sesukamu”,ucap Kong Zi singkat.

Mereka terperangah mendengar ucapan sang guru. Kaget sesaat, namun mereka yakin akan kebijaksanaan sang guru dan mereka menunggu ucapan-ucapan berikutnya.

“Berbuatlah semau kalian, lakukan apa saja yang kali mau. Merampok, memperkosa, membunuh, menipu terserah kalian. Anggap saja tidak ada hukum yang berlaku.”

Mendengar ucapan Kong Zi, murid-muridnya saling memandang kaget. Ada apa dengan sang guru, apa sudah kehilangan akal?

“Ya, kuucapkan sekali lagi, berbuatlah semau kalian. Apapun itu”.

Beberapa muridnya mulai menampakkan wajah ragu.

“Kalian boleh melakukan apa saja dan kapan saja. Tapi aku minta, kalian lakukan kebaikan pada satu hari sebelum kematian kalian”.

Mendengar ucapan sang guru, legalah hati mereka. Tapi setelah ditelaah kembali kata-katanya, mereka kaget.

“Guru, bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mati?”

Kong Zi hanya tersenyum.

Bookmark and Share
Confusius
 

confusiusConfusius, salah satu tokoh pemikir besar dunia, terkenal dengan kebijaksanaannya yang luar biasa. Dalam mempelajari ilmu, ia rela meninggalkan statusnya sebagai pejabat negara dan pergi mengembara bersama lima muridnya. Motif lainnya adalah ia merasa tidak puas dengan kontribusi yang bisa dia berikan kepada negaranya dengan status pejabatnya, ia lebih memilih untuk menyebarkan ajaran-ajarannya kepada masyarakat.

Zi Xue, adalah salah satu murid Kong Zi ( Confusius ). Zi Xue merupakan murid termuda dari lima murid pertama Kong Zi. Awalnya dia adalah seorang pencuri yang ditemukan oleh Kong Zi, yang cukup bengal dan liar. Dia adalah anak yatim piatu yang ternyata dia sendiri tidak tahu nama aslinya siapa. Zi Xue adalah nama yang diberikan kepadanya yang memiliki arti “Anak yang mandiri untuk belajar”. Dengan kebajikan Kong Zi, Zi Xue bisa menjadi orang yang cukup bijaksana walau darah mudanya yang bergejolak masih mengalir.

Pertemuan awal Kong Zi dan Zi Xue ternyata cukup menarik bagi saya, di awali dengan Zi Xue yang menodongkan pisau hendak mencelakai Kong Zi. Dengan bijaknya Kong Zi bertanya demikian

Kong Zi : “Wahai anak muda, apa yang menjadi sumber inspirasimu?”

Zi Xue ( sambil menodongkan pisau ) : “Pedang. Meski sekarang aku dan pisau ini sama-sama kecil, tapi suatu hari aku akan mengubah dunia ini dengan pedangku”

Kong Zi : “Inspirasimu sama sekali tidak ada salahnya, tapi apa kau hanya bisa mengandalkan pedang?”

Zi Xue : “Aku tidak butuh ilmu apapun!!”

Kong Zi : “Kalau bambu Na Shan ( bambu yang terkenal paling lurus, keras dan bagus ) dipasangkan dengan pedangmu, lalu diasah tajam, percayalah, tak hanya kulit badak yang sangat tebal yang bisa ditembus”

Kong Zi : “Itu akan menjadi pedang yang bisa kau pakai untuk mengatasi segala hal di kehidupan ini”

Terperangah mendengar kata-kata Kong Zi yang begitu bijaksana, Zi Xue lari ketakutan. Dan esoknya ia menghadang rombongan Kong Zi dan memintanya untuk menjadi murid.

Ya, Zi Xue adalah tokoh favorit saya. Walau ia merasa sangat bodoh dari saudara-saudara perjalanannya, ia tetap mau belajar kebijaksanaan dari Kong Zi.

Pemberian nama Zi Xue yang berarti “Anak yang mandiri untuk belajar” tidak terlepas dari kata-kata Kong Zi yang terkenal.

“Saat berusia 15 tahun, aku sudah mulai belajar sendiri. Usia 30 mulai mandiri. Usia 40 sudah tidak ada keraguan. Usia 50 mengerti rahasia alam. Usia 60, telinga bisa membedakan. Usia 70, banyak harapan namun tidak melampaui batas.”,

kata-kata di atas sangat menginspirasikan saya untuk selalu mencari ilmu tanpa peduli berapapun umur saya. Dari confusius, saya belajar banyak dan dari dia juga saya meyakinkan diri saya kalau ternyata saya masih sangat bodoh dengan kehidupan ini.

Confusius, you make me confuse

Bookmark and Share
Paradoks Ambisius
 

Ambisius, itu kata-kata yang melekat dengan diri saya, dilabeli oleh si mama.

Saya memang cukup keras kepala untuk masalah pilihan hidup. Bagi saya, tidak ada kompromi sama sekali untuk hidup saya. Apa yang saya mau, saya inginkan, harus saya dapatkan.

Dulu, saya bisa dengan berani mencemooh orang dengan jalan pikiran yang tidak sesuai dengan saya, tidak segan-segan saya berkonfrontasi dengannya. Intinya ya debat kusir, saya keras kepala dan mereka juga keras kepala.

Saya dulu percaya, bahwa apa yang saya mau harus saya dapatkan dengan perjuangan, dengan keras kepala tentunya. Tidak jarang juga hasilnya tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Kecewa? Tentu.

Hingga akhirnya suatu titik, disaat kekecawaan saya bertubi-tubi,  yang saya rasakan hanya lelah. Walaupun kalau hasilnya berhasil, yang ada hanya kesenangan sesaat, karena kemudian pasti saya dihadapkan lagi dengan masalah ya lain. Senang sebentar, kemudian kembali misuh-misuh. Alur kehidupan saya seperti rollercoster, naik turun, dan rasanya melelahkan.

Lama-lama saya belajar, hidup seperti ini rasanya capek. Saya hanya bisa bersenang-senang sesaat lalu kembali misuh-misuh, kenapa saya tidak bisa bersenang-senang terus?

Kemudian saya belajar untuk tidak berharap, karena tadi, kalau harapan saya tercapai saya pasti senang, selesai harapan itu tercapai dan dihadapi masalah lagi, pasti saya kembali misuh-misuh, lingkaran setan kata diri saya. Oke.. saya tidak akan berharap apapun, saya akan menjalani hidup berlalu, bagaikan air.

Ketika saya mencoba untuk tidak berharap, yang saya rasakan hidup saya seperti tidak memiliki tujuan. Saya seperti berjalan di kerumunan tanpa tau mau kemana. Saya tidak bertanya kepada siapapun. Yang ada saya melangkahkan kaki hingga kemana pun saya tidak tahu.

Stop! Ini bukan kehidupan saya! Saya tidak akan pernah menjadi besar dengan cara ini!

Saya bertanya pada diri saya, apa yang salah dengan diri saya? Saya menjadi ambisius, salah. Menjadi orang yang go with the flow, salah.

Ada satu kata yang mengganggu saya selama hidup, ketika menjadi sangat ambisius, kata-kata itu saya benci. Rasanya seperti orang lemah saja menurut saya. Dulu saya sangat yakin, bahwa kehidupan kita itu yang menentukan kita sendiri. Saya meyakini hal itu dalam-dalam. Mendengar kata “itu” membuat saya alergi. “Maaf.. saya tidak selemah itu”.

Ikhlas, itu kata yang dulu membuat saya cukup alergi. Rasa-rasanya tidak jantan sekali dengan kata itu menurut saya dulu. Bagi saya ikhlas hanya digunakan ketika kita akan menyumbang atau bersedekah, selain itu kata tersebut tidak cocok digunakan untuk perjuangan hidup. Itu menurut saya dulu.

Saya ternyata lupa, kalau dulu saya pernah membuktikan kata itu. Dulu, ketika saya masih kecil, dengan berbagai keinginan saya, saya bisa saja meraung-raung nangis memaksa orang tua saya. Saya memang anak bungsu dan saya yakin pasti permintaan saya akan ditanggapi. Tapi waktu itu dengan keinginan saya yang besar akan suatu benda, saya tidak gunakan kebiasaan saya, meraung-raung. Saya berbeda dengan saya biasanya, saya hanya memandangi barang yang saya suka, tersenyum dan dalam hati saya berkata “Kalau dibelikan ini sama mama, sepertinya menyenangkan yah…”, saya ikhlaskan keinginan saya.

Dan ternyata, keinginan saya terkabul tanpa saya perlu meminta dulu kepada orang tua saya.

Ikhlas. Kata yang dulu saya sangat benci, sekarang sedang saya coba tanam dalam-dalam di hati saya. Saya masih belajar dengan kata ikhlas itu.

Saya belajar bahwa memiliki keinginan itu bagus, membuat kita memiliki arah dalam kehidupan. Terlalu berharap keras dengan terwujudnya keinginan itu hanya akan membuat kita sendiri lelah, untuk pengimbangnya adalah ikhlas.

Berjuang, ikhtiar, tawakkal dan ikhlas.

Percaya deh, menjadi orang yang meledak-ledak itu melelahkan. Karena saya pernah menjadi orang seperti itu.

ikhlas

gambar dari sini

Bookmark and Share
Butterflies and Hurricanes
 

Pernah dengar the butterfly effect?

Professor Edward Norton Lorenz adalah seorang pakar metrologi yang menemukan sebuah fakta mengejutkan bahwa terdapat efek langsung dari kumpulan kepakan sayap kupu-kupu di hutan brazil yang mampu menimbulkan angin tornado di Texas kemudian. Dari ide kecil tentang “kepakan sayap kupu-kupu”, muncullah sebuah teori yang dinamakan chaos theory. Teori ini menunjukkan bahwa adanya kepekaan dari kondisi awal yang akan merubah hasil akhir.

Contoh dari chaos theory ini adalah pembulatan bilangan. Pada perhitungan sensitif, pembulatan bilangan desimal di belakang koma ternyata sangat-sangat mempengaruhi hasil akhir. Bilangan 2,56318312 memiliki delapan angka di belakang koma yang bisa kita bulatkan menjadi 2,563. Sisa 0,0018312 bagi kita dirasa tidak terlalu penting, namun pada perhitungan jumlah besar hal ini sangat mempengaruhi. Hasil akhir kurva atau grafik akan berbeda jauh.

So, bagaimana dengan kehidupan kita? Apakah chaos theory ini berlaku?

Bagi saya, chaos theory bisa kita terapkan dalam kehidupan. Good chaos theory namanya. Teori kekacauan yang baik.

Bagaimana kalo kita setiap hari melakukan hal-hal baik yang kecil-kecilan saja namun terus berlangsung? Bagaimana kalau kita menambah hal-hal detail positif dalam pekerjaan kita setiap hari?

Good chaos theory ini mirip dengan pribahasa “menumpuk sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Efek di awal pasti kurang terasa, tapi kalau dikerjakan terus menerus, pasti membawa hasil yang baik di akhirnya.

Jadi, mari kita terapkan teori ini. Karena apapun yang kita lakukan, sekecil apapun, pasti akan berpengaruh.

“Allah akan selalu menghitung kebaikan atau keburukan kita, walau sekecil debu di padang pasir atau buih di lautan”

Best, you’ve got to be the best
You’ve got to change the world
And use this chance to be heard
Your time is now

Don’t let yourself down
Don’t let yourself go
Your last chance has arrived

Best, you’ve got to be the best
You’ve got to change the world
And use this chance to be heard
Your time is now

Muse – Butterflies and Hurricanes

Bookmark and Share
Menyalahkan Itu Mudah
 

Menyalahkan itu mudah, ya memang mudah. Apa sih susahnya tinggal menunjukkan jari telunjuk kita kepada seseorang ( atau apapun ) dan menyalahkannya?

Tapi untuk bertanggung jawab? Ohh.. susah sekali.

Entah kenapa saya kurang begitu respek dengan orang yang berkata, “Ya.. sudah takdirnya sih… bla bla bla”. Cmon! Anda menyalahkan takdir. Berhentilah menyalahkan takdir, anda tidak akan pernah tahu takdir anda itu apa kecuali ketika anda sudah kehilangan nyawa.

Ketika anda menikah dengan seseorang, anda dengan seenaknya berkata “Ini dia adalah bagian dari takdir saya”. Tapi begitu pernikahan itu selesai, dengan enaknya juga anda “Ya.. ternyata bukan takdir saya”. Seolah-olah yang namanya takdir itu bisa dihapus atau ditip-ex.

Ada suatu kisah.

Seseorang digigit oleh ular berbisa yang ternyata racunnya sangat mematikan. Begitu digigit, dia marah-marah dan mengejar ular itu. Dibunuhnya sang ular dan senanglah ia. Tapi ternyata racunnya sudah menjalar kemana-mana, apalagi karena ia terlalu banyak bergerak. Akhirnya ia mati.

Ini adalah tindakan menyalahkan

Tapi kalo dia sadar apa yang seharusnya dilakukan. Begitu digigit, dengan tenang ia hisap racun yang ada di tubuhnya. Dia obati hingga akhirnya tidak terjadi apa-apa. Ini adalah bentuk tanggung jawab.

Dari cerita di atas, apapun yang terjadi pada anda walau bukan anda penyebabnya, racun tetap ada dalam diri anda. Orang lain mungkin saja membuat anda sakit hati atau situasi mungkin saja membuat anda gagal dan berbagai penyebab lainnya.

Anda bisa saja menyalahkan semua penyebab anda sakit hati atau gagal, tapi itu tidak akan pernah membuat anda menjadi lebih baik.

“Iya, gara-gara dia tuh… padahal bukan salah gue juga”

“Iya deh.. salah gw..”

“Emang sudah takdirnya sih, mau gimana lagi?”

Berhentilah mencari alasan-alasan otentik untuk tidak bertanggung jawab.

Stop blaming and take responsibility now!

fino a quando ci incontreremo di nuovo

Bookmark and Share
Kisah Eddy ‘Menyulap’ Saham AQUA ala Warren Buffet
 

Jakarta – Eddy Rustanto mungkin bukan seorang investor kakap bermodal miliaran rupiah. Namanya boleh jadi tidak dikenal publik. Namun tidak mustahil jika dirinya akan
menjadi sosok impian setiap investor saham.

Jika Warren Buffet dikatakan pernah menyulap saham Coca-Cola seharga US$ 1 per saham menjadi US$ 1.000 per saham, mungkin kisah yang ‘hampir’ sama akan dialami Eddy.

Pada tahun 1990, tepatnya pada tanggal 1 Maret 1990, PT Aqua Golden Mississippi menggelar penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Dengan mencatatkan saham sebanyak 6.000.000 saham. Harga pelaksanaan IPO perusahaan yang menyandang kode AQUA ini sebesar Rp 7.500 per saham dengan nilai nominal Rp 1.000 per saham.

Eddy Rustanto, merupakan salah seorang investor yang berpartisipasi dalam IPO itu. Tak banyak yang ia beli, jumlahnya tidak sampai 1 lot. Sebagai catatan, untuk masa itu, investor dimungkinkan membeli saham berjumlah di bawah 500 lembar (1 lot) atau yang dikenal dengan istilah Odd Lot (lot ganjil).

“Waktu itu saya beli cuma 100 lembar saham pada harga IPO. Tujuannya ya investasi, iseng-iseng beli, siapa tahu bisa untung di kemudian hari,” ujar Eddy kepada detikFinance, Senin (20/9/2010) malam.

Itu berarti, modal yang dikeluarkan Eddy untuk berpartisipasi dalam IPO AQUA hanya sebesar Rp 750.000. Pada tahun 1994, AQUA membagikan saham bonus dengan rasio 2:1 atau setiap pemegang 2 saham akan memperoleh 1 saham baru.

Pada tahun 1995, AQUA kembali menggelar aksi pembagian saham bonus dengan rasio 10:3 atau setiap pemegang 10 saham akan memperoleh 3 saham baru. Kemudian pada tahun 1997, AQUA membagikan dividen saham dengan rasio 8:1 atau setiap pemegang
8 saham akan memperoleh 1 saham baru.

Demikianlah sejak 1997 total saham AQUA dalam modal disetor dan ditempatkan penuh sebanyak 13.162.473 saham, jumlah yang sama hingga hari ini.

Bersamaan dengan serangkaian aksi itulah, tanpa menambah modal apa pun jumlah saham Eddy kini berlipat 2,19 kali menjadi 219 lembar saham. “Jumlah saham saya saat ini segitu, 219 lembar,” ujarnya.

Pada akhir 2001, AQUA menggalang rencana go private alias mengubah statusnya menjadi perusahaan tertutup. Untuk keperluan itu, AQUA menawarkan harga tender offer sebesar Rp 35.000 per saham. Sayangnya rencana itu tidak disetujui pemegang saham lantaran harga saham AQUA merambat naik hingga menyentuh level yang sama dengan harga tender.

Pada akhir Agustus 2001, harga AQUA masih di level Rp 15.000-an. Pada Desember 2001, harganya telah menyentuh level Rp 35.000 per saham.

“Waktu itu memang pemegang saham minoritas meminta harga lebih tinggi, karena harga tender sama dengan harga di pasar. Makanya waktu itu rencana go private akhirnya gagal karena tidak dapat restu pemegang saham,” tutur Eddy.

Lama berselang, AQUA kembali menggelar rencana go private pada akhir 2005. Ketika itu harga AQUA di pasar reguler berkisar di level Rp 50.000 per saham, sedangkan harga tender yang ditawarkan AQUA sebesar Rp 100.000 per saham.

Pada RUPS 14 November 2005, jumlah investor independen yang hadir hanya 52,74%, jauh dibawah ketentuan Bapepam-LK minimal sebanyak 75%. RUPS ke 2 digelar pada 2 Desember 2005. Namun yang hadir hanya 39,27% saja. Dan pada RUPS ke 3, batasan
kuorum tetap tidak dapat dipenuhi.

Oleh sebab itu, otomatis rencana go private ini kembali gagal. Pertanyaannya kemudian, mengapa investor-investor memutuskan tidak hadir?

Menurut Eddy, saat itu memang ada pihak-pihak yang membisikkan pemegang saham minoritas untuk menjegal go private AQUA dengan alasan harga tender yang ditawarkan terlalu murah.

“Saat itu saya termasuk yang setuju dengan rencana go private. Tetapi ada beberapa investor minoritas yang punya saham cukup banyak, mendesak manajemen menaikkan harga tender. Padahal saat itu, banyak sekali pemegang saham minoritas
yang setuju dengan harga yang ditawarkan,” ungkap Eddy.

Hal senada diungkapkan oleh Yuli, ibu dari Ardhian Indrayana yang diberi surat kuasa atas kepemilikan 6.163 lembar saham AQUA milik Ardhian.

“Memang sangat disayangkan kalau dari kemarin-kemarin gagal terus karena ada investor besar yang meminta harga terlalu tinggi. Padahal, kita yang hanya punya sedikit ingin menjualnya sejak lama. Masak karena yang besar-besar itu, kita yang kecil-kecil jadi rugi?” keluh Yuli.

Meski gagal pada tahun 2005, AQUA belum menyerah. Pada tahun 2010 ini, manajemen AQUA kembali mencanangkan skema go private. Harga yang ditawarkan pun naik drastis menjadi Rp 500.000 per saham.

Sebagai catatan, harga saham AQUA di pasar reguler sebesar Rp 244.800 per saham, sedangkan di pasar negosiasi (NG) dan pasar tunai (TN) sebesar Rp 350.000 per saham.

“Harga tender offer dari PT Tirta Investama sebagai pemegang saham kendali,” ujar Direktur Utama AQUA, Parmaningsih Adinegoro.

Komposisi pemegang saham AQUA adalah PT Tirta Investama 12.419.090 saham (94,35%) dan publik 743.383 saham (5,65%). Dengan harga sebesar Rp 500 ribu per saham, maka total dana yang harus dirogoh Tirta Investama sebesar Rp 371,691
miliar.

Untuk keperluan ini, AQUA akan menggelar RUPS pada 22 September 2010 dalam rangka meminta persetujuan pemegang saham minoritas. RUPS kali ini sedikit berbeda. Manajemen AQUA telah mewanti-wanti kepada pemegang saham kalau penawaran kali ini merupakan kesempatan terakhir pemegang saham untuk menjual sahamnya di harga tinggi.

“Ini sudah merupakan penawaran terbaik. Kalau perseroan tetap jadi perusahaan publik, maka harga saham akan tergantung mekanisme pasar dan pemegang saham, terutama yang memegang saham odd lot (jumlah saham di bawah 500 lembar saham) dimana banyak pemegang saham perseroan yang seperti ini, akan kehilangan kesempatan untuk menjual pada harga seperti yang ditawarkan pada tender offer. Artinya kesempatan emas akan hilang,” jelas Parmaningsih.

Parmaningsih mengakui, ancaman penolakan masih mungkin terjadi pada RUPS kali ini. Namun ia bersama manajemen AQUA memastikan kalau penawaran kali ini merupakan penawaran terakhir yang akan diberikan AQUA. Jika gagal, maka tidak akan ada lagi skema go private.

“Kalau tetap ada penolakan, maka tidak akan ada lagi aksi korporasi. Ini upaya terakhir dan maksimal yang bisa ditawarkan kepada pemegang saham,” tegas Parmaningsih.

Meski demikian, Parmaningsih optimistis kalau pemegang saham minoritas akan menyetujui skema go private pada kesempatan kali ini. Sebab, banyak pemegang saham minoritas yang telah menyampaikan konfirmasi atas kesiapannya mendukung rencana tersebut.

“selama ini banyak pemegang saham yang sudah menghubungi perseroan menyatakan keinginan untuk menjual sahamnya,” ujar Parmaningsih.

Yuli pun menyatakannya kesiapannya mendukung rencana ini. Ia mengaku tidak melihat alasan untuk menolak rencana ini.

“Buat apa repot-repot minta harga tinggi kalau ujung-ujungnya malah nggak dapat apa-apa. Manajemen kan sudah bilang kalau ini penawaran terakhir, jadi saya pikir sebaiknya semua pemegang saham minoritas setuju saja lah, supaya sama-sama enak, semuanya untung,” ujarnya.

Hal itu pun diakui oleh Eddy. Ia pun mengaku siap mendukung rencana go private AQUA dalam RUPS 22 September 2010.

“Kalau saya sih melihatnya, harga yang ditawarkan sudah sangat bagus. Kapan lagi bisa jual pada harga segini. Kalau jual di market sulit, tidak ada posisi. Lagipula ini kesempatan terakhir kan, kalau tidak jual sekarang, kapan lagi?”
ujar Eddy.

Bagaimana tidak, dengan modal membeli 100 lembar saham sebesar Rp 750.000, Eddy bakal memperoleh dana sebesar Rp 109,5 juta dari penjualan 219 lembar sahamnya di harga Rp 500.000 per saham. Itu berarti, selisih keuntungan (gain) yang
diperoleh Eddy dari penantian selama 20 tahun sejak IPO AQUA mencapai 14.500%!!
(dro/qom)

taken from here

############################################################################

Memang tidak bisa dipungkiri kalau pasar saham itu merupakan tempat yang menggiurkan untuk mendapatkan untung. Melihat gain yang didapat Eddy sangat besar, dari harga saham hanya Rp. 7.500 per lembar hingga menjadi Rp. 500.000, tentu sangat menggiurkan kita.

Belum dari cerita salah satu teman saudara saya, yang dari tahun 95an sudah mencicil untuk membeli saham astra. Setiap gajiannya selalu disisihkan untuk membeli saham perusahaan otomotif tersebut, tidak usah banyak-banyak, 1 lot pun tak apa-apa tapi konsisten. Dan tahu sendirikan sekarang harga saham astra berapa?

Kejelian memang diperlukan untuk bermain di bidang ini. Update info itu harus dan untuk para spekulan harus pintar mencium jejak sang bandar. Alhamdulillah, saya pernah mencicipinya, walau mungkin tidak sedahsyat pak Eddy ini. Well.. namun, dibalik profit yang besar tentu diikuti resiko yang besar pula. So… be careful traders ;)

Bookmark and Share
Nero, The Roman Emperor – Part 2
 

Nero semakin menggila. Melihat kekurangan keuangan, membuat Nero gelap mata. Kalau dulu dia dengan nekat berani mengorbankan daerah jajahan, sekarang dia sendiri berani mengorbankan masyarakatnya. Nero mengeluarkan perintah kepada Tigellinus agar

  1. Menyuruh para golongan aristokrat, pengusaha, pemilik tanah agar menyerahkan semua hartanya kepada Roma
  2. Memberikan tiga opsi pada mereka
    1. Bunuh diri
    2. Dibunuh oleh para pengawal, atau
    3. Semua keluarganya dibunuh ( dan tetap mereka juga dibunuh )

Terjadi bunuh diri massal dan pembunuhan terhadap golongan orang kaya dimana-mana. Masyarakat di luar Roma semakin cemas dengan tindakan gila Nero. Semua yang dilakukannya hanya untuk Roma, semua obsesi gilanya tentang kota Roma. Hari berganti hari, benih-benih benci masyarakat kepada Nero mulai tumbuh. Continue »

Bookmark and Share