kali elo, magelang, grade 2/3, 2-3km.
pernah merasakan nyawa di ujung tanduk? gw pernah..
tahun 2006 tercatat untuk pertama kalinya gw rafting. ikut kegiatan fun rafting bareng anak-anak mapala kampus gw, diajak salah satu teman sekelas , kiki. memang sebelumnya gw antusias banget pengen ikut rafting sejak sma, semenjak gw diceritain gila-gilaan sama sepupu gw , jimmy, yang udah melanglang buana di dunia kegiatan alam.
karena emang judulnya aja “fun rafting”, jadi disini kita cuman sebagai kegiatan hepi-hepi aja. berbekal 80rebu udah dapet kaos, free makan siang + snack di break point, plus skipper di masing-masing perahu, jadi kita tinggal dayung and go aja.
pagi-pagi jam 8 kita udah ngumpul di sekre mapalanya. dari sana kita ke kali elo make motor, ada sekitar 45 menit dalam perjalanan (dan juga melewati borobudur tentunya).
setelah persiapan seperti setting pelampung, mompa perahu dll beres semua, tanpa ba bi bu kita langsung menuju ke kali elo. sebelumnya kita diajarin dasar-dasar mendayung dalam rafting, dan quote yang paling penting adalah “PANIKLAH DENGAN TENANG”, yep.. sebuah kata mujarab yang nantinya menyelamatkan gw
.
selesai pemberian wangsit dari para skipper dan kata-kata terakhir dari masing-masing peserta
, kita langsung menuju perahu masing-masing. jeram! here we come!
tidak jauh dari start poin (kurang lebih 20meter) kita langsung dihadapkan dengan jeram pertama. waahhh.. gila.. benar-benar memacu adrenalin. jeram sungai menggulung-gulung perahu kita, mengombang-ambingkan dengan kasar kesana kemari.
ternyata teori tentang adrenalin benar
“sekali melewati titik ketakutan dalam dirimu, pasti akan ketagihan untuk mencobanya lagi”
selesai jeram pertama, kita langsung dihadapkan jeram yang kedua. berkali-kali kita berusaha agar perahu tidak menabrak batu kali dengan kencang, dan berkali-kali juga skipper berjuang keras mengatur arah perahu. sambil berteriak-teriak puas karena melawati jeram tentunya. 
selesai jeram, ingin sekali kita langsung dihadapkan pada jeram selanjutnya, kalau perlu satu sungai isinya jeram semua deh
.. dan kita juga mencoba mendahului perahu yang lain, seolah-olah ada kompetisi di antara kita.
setelah melewati beberapa jeram, kita akhirnya sampai di break point, titik istirahat kita. dikasih snack ma air mineral, lumayan lah buat ngisi tenaga yang sempat habis gara-gara ngelawatin jeram barusan.
di break point ini anak-anak panitian bermain mini jeram, yaitu dengan menghanyutkan diri berikut pelampung (memakai ban sebagai pelampung) dan langsung berenang ke tepian.
hmm.. sepertinya menarik, dan rasa pengetahuanku mendorong ingin melakukannya juga. bersama seorang teman satu perahu kita meminjam satu ban pelampung dari panitia (satu ban buat 2 orang) dan kita langsung menceburkan diri ke dalam jeram. wah.. memang menyenangkan renang jeram!
berhasil renang jeram, kita langsung berenang ke tepi. dan disinilah permasalahan terjadi…
pertama, gw nggak ngira kalau sungai yang berarus jeram itu dalam sekali. pikiran pertama gw adalah minimal kaki masih menyentuh dasar. disini gw mulai panik, tapi masih dalam keadaan bisa diatasi.
kedua, oke.. gw ma teman gw mencoba berenang ke tepi. tapi apa yang terjadi, ternyata ada arus berputar di tengah sungai (kita terbawa ke tepi yang satu lagi, dimana terdapat dinding sungai yang terjal dan berlumpur, sangat tidak memungkinkan untuk mencoba menaikinya). semakin kita berenang, yang ada semakin terbawa arus dan malah menjauh tepi sungai satunya.
ketiga, gw ma temen gw minta tolong. eee… malah diketawain (mungkin kita dikira panitia, soalnya sebelumnya ada panitia yang main-main minta ditolongin). anjrid!!! berkali-kali teriak minta tolong tuh.
, sampe akhirnya ada yang sadar kalo warna helm kita menunjukkan peserta. sayang sadarnya telat, kita berdua udah kemakan jeram..
wah… gw benar-benar diombang-ambing dengan jeram. tangan gw masih memegang erat ban pelampung tadi, teman gw juga. berkali-kali gw tenggelam timbul.. berkali-kali air sungai terminum.. berkali-kali gw berusaha agar tetap pada permukaan.
selesai jeram pertama, untungnya kita masih dihadapkan dengan arus sungai yang tidak berjeram, namun sayangnya sangat pendek jaraknya untuk menghadapi jeram berikutnya. disini kita udah mulai panik, berpegangan erat-erat dengan ban, mencoba berenang ke tepi. apa daya kita berdua kembali ditelan oleh jeram kedua.
tangan gw terlepas dari ban, tali helm gw menyangkut di ranting-ranting pohon yang terhambat pada batu kali. tali helm tadi rupanya mencekik leher gw, sempat gw gak bisa nafas. berusaha menggapai-gapai ranting yang menghalangi tali helm. arus jeram menarik-narik gw seperti berusaha melepaskan kepala gw dari leher.
disini gw pasrah..
“yahh… mati deh gw” <– serius gw mikir kayak gini lho.
di saat-saat seperti ini gw ingat dengan mama dan si babeh, gw ingat dengan keluarga gw semua.
untungnya gw masih dikasih kesempatan bernafas, ranting tadi gw patahin dan gw terbawa arus.
dalam keadaan tenggelam di dalam arus, gw coba mikir gimana caranya nyelamatin diri.
“PANIKLAH DENGAN TENANG”
gw ingat.. dalam keadaan hidup, tubuh manusia pasti selalu mengambang. akhirnya gw rentangkan tangan dan kaki gw agar luas permukaan tubuh gw meluas.. dan setelah arus jeram selesai, tubuh gw langsung mengambang.
disini pikiran gw udah tenang, dan gw sadar kenapa gw tadi gw gagal berenang ke tepi, karena gw panik. akhirnya gw berenang ke tepi dan gw ditolong oleh penduduk sekitar yang sedang memancing.
huahhh.. betapa aku mencintai daratan
.
langsung gw rebahan di tanah, menghirup banyak-banyak udara… ohh.. ternyata gw ga jadi mati.
anak-anak yang lain langsung menjemput gw dengan perahu, dan kita langsung lanjut menghadapi jeram selanjutnya!!
.
teman gw yang satu juga selamat, dia tertolong dengan perahu yang lain.
kalau ditanya “lo kapok dengan rafting?”
“gw jawab nggak!!!, dan gw ketagihan untuk mencobanya lagi”
