tentang keluarga
 

Hari ini aku semakin mengkokohkan egoku tentang hidupku yang tak akan pernah diatur oleh suatu instansi, yang takkan dibatasi waktunya, yang tidak akan dipersulit oleh birokrasi.

Hari ini Rafilla Azzhara, ponakanku, berulang tahun keempat. Di hari yang merupakan miliknya ini, ayahnya tidak berada disampingnya menemaninya. Salah seorang pemimpin daerah di suatu kota di Sulawesi telah menahan kepergiannya untuk ikut merayakan hari di mana dia bertambah umur. Atas dasar nama “bagi hasil” atau entahlah apa yang mereka sebut “pelicin”, mereka telah berhasil menahan kedatangan ayahnya.

Bupati, atau pemimpin suatu kabupaten, telah menahan ayahnya untuk datang ke pulau Jawa. Beliau menahan ayahnya yang mencoba berusaha dengan cara baik. Beliau telah menyandera kebahagiaan putrinya di hari ini (sekali lagi) atas dasar nama “bagi hasil”. Ukh, rasanya ingin sekali aku memakai kata kutip pada kata bagi hasil. Majas sarkasme ingin sekali kudengungkan

Semoga anda, bupati yang sedang kuceritakan, takkan pernah merasakan bagaimana hati anak anda ketika dia harus merayakan ulang tahunnya tanpa kehadiran anda disampingnya.

Semoga anda, bupati yang menginginkan “bagi hasil”, takkan pernah merasakan bagaimana ketika anda tidak bisa menggendong putri anda yang pertama, mengangkat tinggi dia seolah menantang langit, dan berkumandang di dalam hati anda “Wahai langit! Wahai bumi! Buah hatiku akan menjelajahimu! Persiapkan dirimu kelak ketika dia dewasa”.

Semoga anda tidak sampai pernah merasakan… rasanya melihat putri anda bergembira riang.. di saat-saatnya yang lincah… apalagi putri anda termasuk anak yang sangat aktif.. yang suka bergerak ke sana kemari…. susah diatur.. namun tetap lucu

Semoga anda tidak merasakan ketika istri anda berkeluh kesah bahwa harus merayakan ulang tahun putrinya sendirian, tanpa didampingi suami tercintanya. Di dalam hatinya terasa pilu..

Semoga anda tidak akan pernah merasakannya.

Aku takkan pernah ingin seperti ini… tenang keluargaku.. tenang anakku… tenang istriku…

first rafting | kali elo, magelang
 

kali elo, magelang, grade 2/3, 2-3km.

pernah merasakan nyawa di ujung tanduk? gw pernah..

tahun 2006 tercatat untuk pertama kalinya gw rafting. ikut kegiatan fun rafting bareng anak-anak mapala kampus gw, diajak salah satu teman sekelas , kiki. memang sebelumnya gw antusias banget pengen ikut rafting sejak sma, semenjak gw diceritain gila-gilaan sama sepupu gw , jimmy, yang udah melanglang buana di dunia kegiatan alam.

karena emang judulnya aja “fun rafting”, jadi disini kita cuman sebagai kegiatan hepi-hepi aja. berbekal 80rebu udah dapet kaos, free makan siang + snack di break point, plus skipper di masing-masing perahu, jadi kita tinggal dayung and go aja.

pagi-pagi jam 8 kita udah ngumpul di sekre mapalanya. dari sana kita ke kali elo make motor, ada sekitar 45 menit dalam perjalanan (dan juga melewati borobudur tentunya).

setelah persiapan seperti setting pelampung, mompa perahu dll beres semua, tanpa ba bi bu kita langsung menuju ke kali elo. sebelumnya kita diajarin dasar-dasar mendayung dalam rafting, dan quote yang paling penting adalah “PANIKLAH DENGAN TENANG”, yep.. sebuah kata mujarab yang nantinya menyelamatkan gw .

selesai pemberian wangsit dari para skipper dan kata-kata terakhir dari masing-masing peserta , kita langsung menuju perahu masing-masing. jeram! here we come!

tidak jauh dari start poin (kurang lebih 20meter) kita langsung dihadapkan dengan jeram pertama. waahhh.. gila.. benar-benar memacu adrenalin. jeram sungai menggulung-gulung perahu kita, mengombang-ambingkan dengan kasar kesana kemari.

ternyata teori tentang adrenalin benar

“sekali melewati titik ketakutan dalam dirimu, pasti akan ketagihan untuk mencobanya lagi”

selesai jeram pertama, kita langsung dihadapkan jeram yang kedua. berkali-kali kita berusaha agar perahu tidak menabrak batu kali dengan kencang, dan berkali-kali juga skipper berjuang keras mengatur arah perahu. sambil berteriak-teriak puas karena melawati jeram tentunya.

selesai jeram, ingin sekali kita langsung dihadapkan pada jeram selanjutnya, kalau perlu satu sungai isinya jeram semua deh .. dan kita juga mencoba mendahului perahu yang lain, seolah-olah ada kompetisi di antara kita.

setelah melewati beberapa jeram, kita akhirnya sampai di break point, titik istirahat kita. dikasih snack ma air mineral, lumayan lah buat ngisi tenaga yang sempat habis gara-gara ngelawatin jeram barusan.

di break point ini anak-anak panitian bermain mini jeram, yaitu dengan menghanyutkan diri berikut pelampung (memakai ban sebagai pelampung) dan langsung berenang ke tepian.

hmm.. sepertinya menarik, dan rasa pengetahuanku mendorong ingin melakukannya juga. bersama seorang teman satu perahu kita meminjam satu ban pelampung dari panitia (satu ban buat 2 orang) dan kita langsung menceburkan diri ke dalam jeram. wah.. memang menyenangkan renang jeram!

berhasil renang jeram, kita langsung berenang ke tepi. dan disinilah permasalahan terjadi…

pertama, gw nggak ngira kalau sungai yang berarus jeram itu dalam sekali. pikiran pertama gw adalah minimal kaki masih menyentuh dasar. disini gw mulai panik, tapi masih dalam keadaan bisa diatasi.

kedua, oke.. gw ma teman gw mencoba berenang ke tepi. tapi apa yang terjadi, ternyata ada arus berputar di tengah sungai (kita terbawa ke tepi yang satu lagi, dimana terdapat dinding sungai yang terjal dan berlumpur, sangat tidak memungkinkan untuk mencoba menaikinya). semakin kita berenang, yang ada semakin terbawa arus dan malah menjauh tepi sungai satunya.

ketiga, gw ma temen gw minta tolong. eee… malah diketawain (mungkin kita dikira panitia, soalnya sebelumnya ada panitia yang main-main minta ditolongin). anjrid!!! berkali-kali teriak minta tolong tuh. , sampe akhirnya ada yang sadar kalo warna helm kita menunjukkan peserta. sayang sadarnya telat, kita berdua udah kemakan jeram..

wah… gw benar-benar diombang-ambing dengan jeram. tangan gw masih memegang erat ban pelampung tadi, teman gw juga. berkali-kali gw tenggelam timbul.. berkali-kali air sungai terminum.. berkali-kali gw berusaha agar tetap pada permukaan.

selesai jeram pertama, untungnya kita masih dihadapkan dengan arus sungai yang tidak berjeram, namun sayangnya sangat pendek jaraknya untuk menghadapi jeram berikutnya. disini kita udah mulai panik, berpegangan erat-erat dengan ban, mencoba berenang ke tepi. apa daya kita berdua kembali ditelan oleh jeram kedua.

tangan gw terlepas dari ban, tali helm gw menyangkut di ranting-ranting pohon yang terhambat pada batu kali. tali helm tadi rupanya mencekik leher gw, sempat gw gak bisa nafas. berusaha menggapai-gapai ranting yang menghalangi tali helm. arus jeram menarik-narik gw seperti berusaha melepaskan kepala gw dari leher.

disini gw pasrah..

“yahh… mati deh gw” <– serius gw mikir kayak gini lho.

di saat-saat seperti ini gw ingat dengan mama dan si babeh, gw ingat dengan keluarga gw semua.

untungnya gw masih dikasih kesempatan bernafas, ranting tadi gw patahin dan gw terbawa arus.

dalam keadaan tenggelam di dalam arus, gw coba mikir gimana caranya nyelamatin diri.

“PANIKLAH DENGAN TENANG”

gw ingat.. dalam keadaan hidup, tubuh manusia pasti selalu mengambang. akhirnya gw rentangkan tangan dan kaki gw agar luas permukaan tubuh gw meluas.. dan setelah arus jeram selesai, tubuh gw langsung mengambang.

disini pikiran gw udah tenang, dan gw sadar kenapa gw tadi gw gagal berenang ke tepi, karena gw panik. akhirnya gw berenang ke tepi dan gw ditolong oleh penduduk sekitar yang sedang memancing.

huahhh.. betapa aku mencintai daratan .

langsung gw rebahan di tanah, menghirup banyak-banyak udara… ohh.. ternyata gw ga jadi mati.

anak-anak yang lain langsung menjemput gw dengan perahu, dan kita langsung lanjut menghadapi jeram selanjutnya!! .

teman gw yang satu juga selamat, dia tertolong dengan perahu yang lain.

kalau ditanya “lo kapok dengan rafting?”

“gw jawab nggak!!!, dan gw ketagihan untuk mencobanya lagi”

my self : coffe lover
 

gw adalah pecinta kopi.

pertama kali jatuh cinta dengan kopi ketika gw masih smp. dulu gw sering bangun malam buat belajar, karena takut ngantuk jadi gw buat kopi. yang masih gw ingat, ntu kopi ginseng, tapi ga tau mereknya apaan sampe akhirnya tiada hari gw gak minum kopi.

berbicara tentang kopi.. hmm… katanya kopi mempunyai andil terhadap kebudayaan dan politik. hmmm.. coba kita liat budaya amerika (jaman jim reeves mungkin), dulu black coffe, telor mata sapi dan sepotong roti adalah budaya sarapan mereka. kita liat budaya kita, masih ingat akan kenangan gw dulu, minum kopi di suatu kedai perkampungan di malam hari, kopi yang sangat panas dituangkan pada tatakan gelas sehingga kopi tersebut lebih cepat dingin (pintar juga… memperluas permukaan mempercepat kehilangan kalori). ketika kopi di barat menjadi titik awal kebangkitan di pagi hari, di budaya kita kopi menjadi sarana untuk mencairkan suasana di malam hari. dari kesimpulan ini bisa diambil kalo ternyata orang barat lebih suka bekerja sedangkan kita lebih suka begadang yang kemudian telat bangun di pagi hari (kesimpulan ngaco , hehehehe)

lain cerita..

setahun yang lalu, ketika gw masih ngekos, di deket kos gw ada tukang minuman. katanya dia dulu pernah jadi bartender. dengan bekal gerobak kecil, shaker dan ramuan-ramuan minumannya (ga ada yang beralkohol kok), dia coba menjajakannya.

pertama kali gw lewat, “coffe & chocolate” tertera pada gerobak biru yang kecil itu.

menarik..

gw dekatin gerobak itu. ada list yang berisi daftar minuman mixingnya. standar sih, sebangsa cappucino, ekspresso, vanila latte dan lain-lain

gw pesen cappucino es. ternyata enak banget!!! ada rasa kayu manisnya, susunya kerasa banget, apalagi dia buatnya make shaker, jadi ada buih-buih di atas minuman tersebut. harganya murah pulak, cuman 2500 segelas.

trus dia bilang “cappucino yang asli ntu ada krimnya di atas”. weks! segini aja udah enak banget, maklum gw paling minum sebangsa kopi sachetan , apalagi ditambah krim..

atau pernah mencoba kopi dewa susu di blandongan? si enno pernah tuh kesana, tapi ga tau gimana pendapatnya (sori no, lo pas kesana pas baru buka, jadinya masih sepi). kopi susu dengan ampasnya yang pekat ini memang asik banget dijadiin teman kongkow di sana. apalagi dengan ampas kopi yang tersisa, kita bisa nyete-in rokok (nyete disini artinya seperti menulis batik pada rokok dengan ampas kopi, gambarnya mirip kek disamping).

pernah coba kopi joss jogja, tepat di utara stasiun tugu? wah ni mantep banget, kopi hitam yang di dalamnya diberi arang panas? heheheh.. sensasi asik deh, tuh kopi kan di kasih air yang panasnya make arang (jadi udah aroma arang nih), udah gitu dicelupin arang yang masih membara itu (jadi modelnya kayak celupin es batu). sambil duduk lesehan di trotar, dengan sepiring gorengan atau makanan, trus ngobrol rame-rame ma temen…. malam hari pula.. suatu kenikmatan tiada duanya..

sampe skarang gw penasaran ma hazelnut latte, minumnya baru dua kali, dua-duanya di kafe yang sama juga dengan acara yang sama, ngomongin kerjaan ma klien (mana kliennya pula yang ngebayarin ). gila ni kopi, sekali minum aja gw langsung jatuh cinta, hazelnutnya berasa seperti susu… tapi beda.. ga tau cara ngomongnya seperti apa ..

ughh.. gw pengen ke sana lagi.. dan pengennya dibayarin juga , soalnya mahal banget.. . btw tadi gw searching dapet nih resepnya hazelnut latte.

spiced hazelnut latte

1 1/2 cups hot water
1/2 cup hot milk
1 2/3 tablespoons Hazelnut Roast TASTER’S CHOICE® Instant Coffee
2 tablespoons packed dark brown sugar
1/8 teaspoon ground cinnamon
2 tablespoons whipped cream (optional)
  1. Combine water, milk and Taster’s Choice in pitcher; stir until coffee is dissolved. Stir in sugar and cinnamon.
  2. Pour into 2 large mugs. Top with whipped cream. Serve immediately.

Makes 2 servings.