
puncak lawu bersama sahabat-sahabat terbaik saya

Lawu (2005)
Kau akan mengenal siapa dirimu sesungguhnya
Ketika kau mendaki gunung

puncak lawu bersama sahabat-sahabat terbaik saya

Lawu (2005)
Kau akan mengenal siapa dirimu sesungguhnya
Ketika kau mendaki gunung
Menindaklanjuti posting yang sebelumnya “teruskanlah, nak” dan menindaklanjuti impian saya untuk muncak Mahameru, saya tuliskan beberapa informasi tentang mahameru. (Lebih tepatnya saya sedang sakau mahameru)

gunung semeru (source)
Mahameru merupakan puncak dari gunung semeru. Untuk bisa ke gunung semeru, untuk yang dari arah barat seperti Jakarta dan kota-kota lain harus ke Malang terlebih dahulu. Untuk transportasi ke Malang sebenarnya terdapat banyak pilihan seperti bus atau kereta api. Untuk kereta api sendiri ada dua pilihan, Gajayana untuk kelas eksekutif dan Matarmaja untuk kelas ekonomi. Saya sendiri sih untuk pergi ke sana inginnya menggunakan Matarmaja, ingin sekali saya resapi setiap tulisan yang ada di dalam cerita 5cm. Harga tiketnya sendiri bagai bumi dan langit, untuk Gajayana sekitar Rp. 300.000 dan Matarmaja sekitar Rp. 50.000. Lama perjalanan dari Jakarta – Malang dengan menggunakan Matarmaja sekitar 19 jam, sedangkan Gajayana sekitar 14 jam.

stasiun kereta api malang ( source )
Setelah sampai di stasiun kereta, perjalanan dilanjutkan dengan angkutan kota yang berwarna biru jurusang Gadang – Arjosari. Kemudian dari Arjosari dilanjutkan lagi dengan angkutan kota menuju Tumpang. Jika muatan kita banyak, lebih baik disarankan agar angkotnya dicarter saja.
Sesampai di Tumpang, disini kita akan menumpangi jeep. Kita bisa carter atau menunggu jeep tersebut penuh hingga 15 orang. Dari Tumpang, dengan perjalanan menggunakan jeep menuju Ranu Pani, pos pendaftaran sebelum start mendaki semeru. Perjalanan dari Tumpang ke Ranu Pani sendiri sudah dimanjakan dengan pemandangan yang indah.

pemandangan dari Tumpang ke Ranu Pani ( source )

perjalanan dengan jeep ( source )
Di Ranu Pani terdapat pos pendaftaran. Kalau tidak salah syarat-syarat pendaftarannya adalah foto copy KTP dan sejumlah uang untuk registrasi. Dan kalau tidak salah dengar, akhir-akhir juga dibutuhkan surat keterangan sehat dari dokter. Oh iya, satu hal yang harus anda lakukan sebelum ke sini adalah memastikan dahulu, apakah semeru sedang diperbolehkan untuk didaki atau tidak karena tidak lucu juga kalau sudah jauh-jauh datang ternyata sedang tidak boleh didaki. Dan informasi yang saya dapat, ada tanda tangan di atas materai bahwa pihak penjaga telah memperingati maksimal pendakian hanya sampai Kalimati saja, tidak sampai puncak. Well… sebenarnya sih boleh-boleh saja mendaki sampai puncak, tapi kita juga bisa memaklumi ketika para penjaga diminta pertanggungjawabannya ketika ada masalah di puncak. Saya rasa wajar-wajar saja. Toh dari awal kita sudah tahu kapasitas diri kita seperti apa.

pos pendaftaran ranupani ( source )
Setelah pendaftaran di Ranu Pani, di sinilah start awal pendakian gunung semeru. Siapkan tenaga, mental dan impianmu. Mahameru, kami datang.

rute perjalanan mahameru ( source )
Untuk pos pertama, bisa dibilang Ranu Kumbolo lah pos pertamanya. Ranu Kumbolo merupakan danau indah yang terdapat di ketinggian. Di tempat ini lebih sering dijadikan camp untuk istirahat sehari, karena perjalanan dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo sendiri bisa sampai enam jam.

ranu kumbolo, sunrise ( source )

ranu kumbolo ( source )
Setelah bermalam di Ranu Kumbolo, saatnya menuju Oro-Oro Ombo. Dari Ranu Kumbolo, kita akan dihadapan sebuah tanjakan legendaris yaitu Tanjakan Cinta. Ada mitos yang mengatakan apabila kita bisa menyelesaikan tanjakan itu tanpa pernah berhenti, tanpa melihat ke belakang dan selalu membayangkan pasangan yang kita impikan, pasti dia akan menjadi milik kita. Ahh.. entahlah, saya sendiri tidak tahu itu benar apa tidak
, tapi setahu saya tanjakan dengan jarak 30 meter dan kecuraman sekitar 30 derajat ini mengajarkan kita untuk teguh pendirian dan tidak melihat masa lalu. Sepertinya sih…
Dulu di dalam benak saya tentang Pare dulu adalah sebuah kampung yang benar-benar masih alami, yang belum terlalu tersentuh modernisasi. Ternyata, setelah beberapa hari saya tinggal di Pare, menurut saya tidak berbeda jauh dengan kampung mahasiswa di perkotaan namun yang jelas jauh lebih asri dan alami di sini.
Suatu hari, Miss Isa mengajak saya dan teman kelas saya hang out di sebuah tempat yang bernama Bali House atau Hacienda San Pablo. Wew.. nama yang kebarat-baratan. Dalam benak saya, tempatnya adalah sebuah kafe yang disesaki asap rokok dan minuman keras. Hmm.. tapi tidak mungkin, karena kegiatan agama di Kampung Pare ini sangat sering dan tentu pengetahuan agamanya lebih kuat. Oke deh.. kami beramai-ramai ke sana.
Tiba di suatu gang, yang dipinggirnya disesaki oleh sepeda-sepeda onthel, rupanya kafe itu agak masuk ke dalam. Begitu saya masuk ke dalam gang, melewati beberapa rumah penduduk… wew…. tempatnya nyaman sekali. Konsepnya mirip garden party namun lebih ke Indonesia. Ada aliran sungai dan sekumpulan pohon bambu yang ketika angin bertiup, daun-daunnya saling bergesekan dan menimbulkan bunyi yang merdu. Kita bisa makan sambil lesehan atau duduk di kursi. Bahkan ketika malam, suasana romantis di tempat ini sangat terasa. Lilin-lilin dinyalakan di setiap meja.
Di sebelah selatan merupakan sekumpulan kamar yang disewakan kepada pendatang. Kamar-kamarnya saja cukup mewah. Dan di sebelah timur, terdapat satu kamar yang cukup besar yang didalamnya terdapat home theater yang bisa kita sewa dengan biaya yang sangat murah. Di dalam ruang home theater ini disetting sangat nyaman. Terdapat kolam kecil di depan set home theaternya, penerangan yang tidak menyilaukan dan sofa serta bantal agar kita nyaman ketika menonton.
Untuk makanan dan minumannya pun tergolong murah sehingga tempat ini selalu ramai dikunjungi ketika program sudah selesai. Tak jarang orang-orang yang datang ke sini betah berjam-jam entah hanya mengobrol atau bermain kartu. Selain itu yang paling saya suka adalah selera musik sang pemilik, Mr Masrur, yang jazzy. Beliau suka menyetel musik-musik jazz dengan sayup-sayup. Ahhh… you have a good taste, mister.
Pemiliknya adalah seorang mantan guide turis di Bali yang sangat-sangat ramah. Bahkan ketika saya coba berbincang-bincang dengan bahasa inggris dengan beliau, beliau sempat-sempatnya memperbaiki perkataan saya. Beberapa jam saja beliau sudah mengingat nama saya.
Ahhh.. saya ingin ke sini lagi nanti
.
Dulu, sewaktu saya masih kecil, setiap minggu pagi adalah acaranya jalan-jalan saya dengan orangtua saya. Lari pagi atau tracking. Saya beruntung memiliki orangtua yang suka menyesatkan diri. Menyesatkan diri ini maksudnya berkendaraan tapi tidak melalui jalan umum. Untungnya hobi ini juga menurun pada saya. Alhamdulillah.
Suatu hari, si mama iseng-iseng ingin lari pagi di daerah telaga remis. Berangkatlah kami bertiga kesana. Melalui jalur ke arah kota Sumber. Tiba-tiba kenakalan si mama mulai muncul yaitu mencoba-coba jalan yang tidak biasa. Disuruhnya si papa mengambil jalan potong ke arah Kuningan. Terus… Hingga kita masuk ke daerah perkampungan. Sampailah kami semua di tempat yang semuanya berisi ladang sawah yang menghijau dan di sisi selatan, gunung Ciremai yang diselimuti kabut. Saya keluar dari mobil dan menghirup udara sedalam-dalamnya, sekuat paru-paru saya menyimpan udara. Segar…
Hari ini, entah terakhir kali saya ke pesawah berapa tahun yang lalu, saya sendirian ke sana. Entah kenapa, sepertinya langkah saya dituntun ke sana, padahal mungkin ada delapan tahun saya tidak ke pesawahan. Tempatnya cukup masuk ke dalam, melalui beberapa jalan kecil dan tidak selalu dilapisi aspal yang mulus. Sepertinya setiap kenangan dari ingatan saya menuntun ke arah sana. Dan tadi pagi, tepat jam sembilan, saya sampai di pesawahan. Tetap dengan hamparan sawahnya yang menghijau… Indah…
Pesawahan.. tempatku bersembunyi dari penat dunia. Riak sungai, bunyi jangkrik sawah, suara angin yang berlalu menyelusuri batang-batang padi adalah simfoni alam yang indah yang menemaniku. Rasanya saya betah hanya duduk berdiam diri melihat semua ini… Saya suka..
Mungkin suatu saat saya akan datang lagi kesana, pasti…
Seminggu saya hidup di Pare, sudah tentu saya harus beradaptasi baik dengan lingkungan maupun masyarakatnya. Tapi yang menurut saya paling berat adalah adaptasi dengan selera makan. Lima hari pertama saja saya hanya bisa makan sehari sekali, baru besoknya saya bisa makan untuk malamnya, dan itu hanya nasi goreng. Nasi goreng lagi.. nasi goreng lagi. Dan terbukti sudah, beberapa hari kemudian saya sariawan.
Saya agak sulit beradaptasi dengan selera makan orang asli di sini. Ya.. sebagai lidah orang sumatra yang lebih memilih nasi yang agak keras, di sini saya dihadapkan dengan nasi yang agak-agak lembek. Nasi tim bukan… nasi biasa bukan.. Apalagi kalau nasinya diberi kuah sayur.. brrrr…. menyentuhnya saja saya tidak mau. Alhasil.. setiap saya makan di warung, saya tidak pernah pakai sayur. Hanya karena tidak mau memakan nasi lembek. Belum dengan lauk pauknya yang menurut saya kurang spicy. Ugh…
Seminggu saya hidup di sana, perut saya sudah menginginkan nasi padang. Saya ingin bumbu rendang, saya ingin sambal hijau, saya ingin kuah gulai… ARGHH!!!!!
Hari minggu tidak ada program. Saya sudah berniat untuk menjelajah kota Pare. Berangkatlah saya dengan sepeda onthel. Sekali lagi, SEPEDA ONTHEL. Berikut napak tilas perjalanan saya mencari sesuap nasi padang.
klik gambar untuk lebih jelas
Saya memulai perjalan dari office dan berakhir juga di tempat tersebut. Perjalanan saya hingga memutari jalan utama kota Pare dan hasilnya adalah NIHIL. Innalilahi roji’un… tidak ada satupun warung nasi padang selama perjalanan saya. Dan anda-anda semua bisa membayangkan, berapa kilometer yang sudah saya tempuh untuk mencari nasi padang?!!! Serta untuk menambah dramatisnya perjuangan saya, saya hanya menggunakan sepeda onthel. Keren kan? Ketemu nggak.. laper iya nambah parah..
Apakah saya sudah bertanya dengan warga aslinya di mana warung nasi padang? Ohhhh!!! Sudah!! Sayangnya dijawab dengan menggunakan bahasa jawa yang saya sendiri tidak mengerti. Yang saya tangkap dari jawaban itu adalah “Kulon.. Wetan.. Ngisor”… ahh.. sudahlah…
Berangkat jam 9, dan sampai di office jam 11. Saya leyeh-leyeh dulu di sana. Saya smsin Miss Isa,
“Miss Isa, would you like to tell me where i can find some padang food?”. Treng.. dibalas
“Weee.. Nothing! I Haven’t known yet!“. pupus harapanku satu. Ahh.. tidak.. saya masih yakin.. Kalau keinginan saya ditanam kuat-kuat dan saya ikhlas, pasti terkabul.
Saya lihat ada Mr. X dan Mr. Y di office.
“Mister.. di sini ada yang jual nasi padang gak sih? Aku udah keliling kota Pare gak nemu satupun”, tanya saya ke Mr. X.
“Masa? Ada kok, di samping kantor polisi. Kamu ke kota naik apa? Motor?”
“Kagak, ntu naik sepeda”
“Gokil! gila kamu?! Eh pengen padang yah?! Yuk yuk yuk, aku juga pengen”,
“Ehh!! Pengen padang yah? Gw juga pengen nih!”, timpal Mr. Y
Alhamdulillah.. akhirnyaaa
. Dan alhamdulillah lainnya, kita ke sana tidak naik sepeda lagi, tapi motor.
#####################################
Mr. Y makan dengan lahapnya. Mr. X dengan rakusnya meminta porsi lebih. Setiap nasi padang yang masuk ke dalam kerongkongan saya, rasanya seperti surga. Lebay? Ah.. nggak, sumpah.. itu rasanya seperti nasi padang yang paling nikmat sepanjang hidup saya karena saya mendapatkannya dengan perjuangan, dengan setiap keringat yang jatuh akibat menggenjot sepeda onthel.
Perut kenyang… dan sesi obrolan santai pun dimulai
“Ahh.. senang gw.. masa tadi bangun-bangun dapat rezeki nomplok sejuta”, kata Mr. Y.
“Nahh.. beneran nih, kita makan dibayarin kan bro?”, timpal Mr. X.
“Santaiiii!!!! Gw bayarin semuaaa!”. Waw… benar-benar rezeki buat saya. Makan nikmat, gratis pulak!
“Wah.. ada apaan nih mas?”, tanya saya dengan senyum sumringah.
“Baru dapat rezeki gara-gara bola tadi malam. Padahal nonton aja nggak.. ehhh tadi pagi dibangunin, tiba-tiba ada aja sejuta”.
“Wow.. gila! Kok bisa gitu mas?! Ikutan kuis?”
“Ahahahaha.. nggak lah”, jawab Mr. Y sambil melihat saya sambil senyam-senyum.
Ohh.. ya sudahlah. Saya tidak bisa berpikir panjang karena perut saya sudah kenyang. Mau mikir juga udah alot.
……………..
……………..
……………..
TEOOOOOOOT!
Dapat duit dari hasil pertandingan bola….. tapi bukan gara-gara kuis….
…………….
JRENG!!!!
Innalilahi wa innalilahi roji’un. Astagfirulloh… Gila.. saya makan nasi padang, dibayarin dari uang hasil “itu”?!
ADDDUHHH!!!!!!!!
Sumpah.. perut memang kenyang.. tapi pikiran tidak tenang. Saya tidak mau darah dan daging hasil makanan tadi menjadi haram. Oh.. ya Allah… Sampai di office, saya langsung cabut dengan sepeda onthel.. Berharap saya bertemu dengan pengemis, ingin sekali uang yang saya rencanakan untuk makan tadi saya berikan kepada mereka. Astagfirullah….
#########################
Besoknya, ketika saya ada program di office, saya bertemu dengan Mr. X.
“Hey wan!! Padang lagi yukkss!!”
Saya hanya menjawab iya dan saya langsung kabur…
SELAMAT DATANG DI KAMPUNG INGGRIS, PARE, KEDIRI
english area, dont speak alien
Bahkan di beberapa tempat, terdapat peringatan seperti only monkey who doesnt speak english. Serta untuk program camp mewajibkan setiap penghuninya untuk berbahasa inggris selama 24 jam, apabila ada ucapan bahasa indonesia atau bahasa daerah maka akan mendapatkan punishment.
Teman kelas speaking saya, Ahmad, yang terdapat pada foto diatas. Sepeda merupakan kendaraan transportasi yang jamak di gunakan di Pare. Dengan modal Rp. 50.000 serta jaminan KTP, anda bisa menyewa sepeda onthel untuk satu bulan.
suasana kelas basic pronunciation
Di Pare terdapat kurang lebih sekitar 40 english courses. Dari yang kelasnya di dalam gedung hingga yang menyatu dengan alam seperti kelas basic pronunciation yang saya ikuti di atas. Well, ternyata saya baru tahu kalau cara pengucapan bahasa inggris yang paling benar dan baik adalah dengan caranya si Cinta Laura dan ternyata yang kita pelajari di sekolah dan di kampus banyak sekali kesalahannya seperti pencampuradukan america style dan british style. Dengan belajar pronunciation selama dua hari saja sudah cukup menyiksa leher dan tenggorokan. Jadi siapkan vitamin c sebanyak-banyaknya jika anda ingin mengikuti kelas ini.
hang out dengan teman-teman kelas speaking
Isn’t it lovely?
Pare, sebuah kampung yang masih asri dan setiap penduduknya pun ramah. Menurut saya, belajar bahasa inggris di Pare jauh lebih baik dibandingkan mengikuti kursus-kursus atau lembaga yang menurut saya menang di bonafitnya saja. Di sini juga kita diajarkan kesederhaan dan kebersamaan. Itu yang saya suka.
So… kalau kalian punya waktu, luangkan waktu kalian kesini. Percaya deh.. teman saya saja yang benar-benar tidak bisa bahasa inggris, hanya dalam waktu empat hari untuk kepercayaan diri dan speakingnya saja sudah lumayan. Biaya? jauh-jauh lebih murah dibandingkan di kota lain. Banyak orang jauh-jauh datang ke sini, contohnya adalah sebelah kamar saya ditempati orang timor leste yang jauh-jauh dari negaranya datang kesini untuk belajar bahasa inggris.
Ayo, jangan ragu untuk datang ke Pare yang menawarkan pengalaman tak terlupakan.
PS : bersyukurlah sinyal 3G telkomsel bisa sampai ke kampung Pare
. Flash saya masih bisa diandalkan. So.. now i’m truly a post modern man, can work everywhere
Now, i stay in pare, Kediri, and i have stories about this place.
And you know? There are a lot of interesting things!!!
I’ll write here, later

“Arc de Triomphe”nya Kediri
Selamat Datang di Kediri
Entah kenapa malam ini saya tiba-tiba mengenang perjalanan caving ke luweng jomblang dan hebatnya lagi saya menemukan thread di kaskus yang isinya membicarakan tentang luweng grubuk yang memang terhubung dengan luweng jomblang…. coba baca ini (luweng grubug.. serem tp dalemnya keren)
Sumpah.. semuanya seperti sudah diatur agar saya bisa mengenang perjalanan ke luweng jomblang… ahhh…
Oke.. untuk pengenalan, luweng jomblang adalah sebuah gua vertikal dengan lebar mulut entrance sekitar 60 meter dan kedalaman berkisar 60-80 meter tergantung dari titik rigging. Untuk menuruni luweng jomblang ini, terdapat empat titik rigging.

luweng jomblang yang bulat hitam dan luweng grubug ada di utaranya

entrance jomblang
Menuruni luweng jomblang yang vertikal, kita bisa gunakan satu set SRT (single rope technique). Saya ada cerita ketika eksplorasi luweng jomblang ini. Ketika saya sudah sampai di dasar dan sedang istirahat, tidak jauh dari hadapan saya, syuuuttttt…. bletakkkkk, jammer jatuh dari atas. Waduh… ternyata jammer bagus, teman seangkatan saya, jatuh ketika dia sedang akan turun.
“Wah… Ayam bakar nih ntar pulang!”, teriak saya kegirangan dan dari atas terdengar si bagus misuh-misuh. Iya, kami memiliki denda bagi orang yang lalai, semakin besar kelalaiannya semakin besar dendanya ( ya makan-makan itu
)
Begitu sampainya di dasar luweng jomblang, di sebelah baratnya akan kita temukan lorong yang sangat besar. Lorong tersebut yang akan menghubungi luweng jomblang dengan luweng grubuk.

lorong antara luweng jomblang dan luweng grubug
( sumber : kaskus.us )
Lorong tersebut sangat-sangat besar. Ketinggiannya ada sekitar 20 meter dan lebar sekitar 30 meter. Panjang lorong berkisar 100 meter.
Begitu kita sampai di luweng grubug, terdengar sayup-sayup bunyi arus sungai. Terus berjalan masuk.. kita akan disambut dengan keindahan luweng grubug…. sunbeam dan flowstone-nya yang sangat-sangat indah. Saya yang pertama kali masuk tidak bisa menahan decak kagum…. Embun-embun sungai naik ke atas, sehingga menghasilkan uap yang semakin membuat indah sunbeam yang masuk melalui entrance luweng grubug… Subhanallah…

sunbeam yang indah…
( sumber : flickr.com )

flowstone di luweng grubug
( sumber : flickr.com )
Sejenak saya terpana ketika melihat semuanya… seolah-olah luweng grubug menjadi ruang pameran sekumpulan karya seni. Ya… semuanya indah…
Namun di balik keindahannya itu, ternyata ada sejarah gelap. Luweng grubug dulu dijadikan sebagai tempat pembuangan anggota PKI. Dulu ketika munculnya gerakan pembasmian PKI 1966, setiap anggota PKI yang tertangkap dilempar dari atas, dari ketinggian 100 meter. Dalam sehari, dua-tiga truk pengangkut anggota PKI keluar masuk ke kawasan luweng grubug. Saya pernah lihat videonya dan memang di dalam luweng grubug ini ditemukan kerangka-kerangka manusia. Ahh.. sudahlah.. anggap saja itu sebagai sisi misteri luweng ini.
Luweng yang memiliki ketinggian 100 meter ini di dalamnya terdapat aliran sungai. Bahkan bisa dijadikan sebagai sarana rafting. Serukan? rafting dan caving satu paket.
Alhamdulillah-nya, sudah ada biro wisata yang bisa mengatur kegiatan ke jomblang dan grubug. Silahkan baca kalisucicavetubing. Sesekali berliburlah ke tempat ini, saya jamin kalian bakal ditakjubkan dengan karya seni Tuhan ini.

saya di dasar luweng grubug ( sesekali narsis lha )
NB : Dan gilanya lagi, kebetulan mengenang-kegiatan-caving ini terus berlanjut. Tadi setelah barcelona vs inter, di globalTV ada eksplorasi luweng jaran pacitan dengan anak-anak ASC ( mas raymond, mas dicky, mas sigit dan mas uchie ).. wew… saya kangen mereka
saya sedang rindu caving…