Beberapa saat yang lalu, saya baru saja selesai berbincang-bincang dengan sahabat saya tentang masalah hidup, baik hidup saya dan hidupnya. Disitu kami habis-habisan bercerita masing-masing masalah kami, tentang apa yang saja yang kami hadapi.
Dia bercerita tentang apa yang dia terima setelah semua yang menurut dia terbaik untuk dia lakukan dan saya akui apa yang dia lakukan adalah atas nama kejujuran, tidak ada yang bermasalah sama sekali. Tapi entah orang lain berpandangan beda dengan apa yang sudah dia lakukan. Saya sangat mengagumi kedewasaan dia dalam bertindak, namun apa yang terjadi? Perlakuan-perlakuan yang menyakitkan hati malah dia terima, yang menurut saya tidak pantas untuknya. Sekarang dia sedang membina hubungan baik dengan orang yang menurut saya tidak patut menyakitinya.
Saya? saya bercerita tentang kedewasaan, di mana seseorang mau mengambil keputusan dan mau menanggung resikonya. Menceritakan apa saja yang dia mau tentu tidak akan ada orang yang marah, karena itu haknya. Tapi menjadi tidak jujur dan menggantungkan perasaan orang, saya yakin adalah hal yang paling dibenci oleh banyak orang. Sahabat saya juga merasakan hal yang sama, digantung perasaannya.
Kami berdua sama-sama ingin ketegasan, bukan sebuah pernyataan yang mengombang-ambingkan perasaan kami. Kami berdua juga bukan anak kecil lagi, yang harus diberitahu hanya kabar baiknya saja, kami berdua tahu apa itu arti konsekuensi dan resiko.
Kalau di sisi sahabat saya, dia ingin membina hubungan baik lagi. Saya? Saya tidak akan yang menjadi yang pertama memulai hubungan itu lagi. Bukan karena ego atau apapun, tapi atas kebaikan. Saya tanamkan dalam hati saya, kalau saya yang memulai dulu berarti saya sama saja dengan membiarkan ketidakdewasaan itu. Membiarkan dia terus-terusan berfikir seperti anak kecil yang tidak mau kehilangan apapun, tidak mau menanggung resikonya.
Di akhir pembicaraan kita, sahabat saya mengambil kesimpulan bahwa kondisi seperti ini pasti memaksa kami untuk menata hati, untuk mengetahui apa yang terbaik. Kami berdua ingin semuanya berakhir baik, semoga ya Allah.
Saya teringat wejangan mama saya, “Mang.. kalau arif punya musuh, jangan pernah arif membencinya dengan sangat, karena bisa saja sewaktu-waktu dia menjadi sahabat terbaik arif. Ingat, Allah itu yang memiliki kemampuan membolak-balikkan perasaan dan hati”.
Ya saya tidak akan pernah menutup hati saya untuk siapapun, saya tidak akan pernah berkata bahwa dia tidak ditakdirkan bersama saya padahal saya sendiri belum tahu apa takdir saya. Semuanya masih abu-abu.
Sayapun masih percaya, bahwa setiap manusia berhak diberikan kesempatan tak terbatas. Walaupun dia sudah berbuat apapun yang menyakiti perasaan kita, kita masih berhak memberikan kesempatan. Tapi tentunya saya tidak akan memberikan kesempatan itu dengan mudah, saya ingin menguji seberapa besar dia menginginkan kesempatan itu.
Saya percaya, setiap orang pasti bisa berubah. Saya percaya.
Related posts:





March 30th, 2010 at 3:36 pm
yaps..setuju..setiap orang pasti berubah, dan semoga perubahannya membawa kebaikan buat orang lain juga
makasii uda mampir yaa
March 30th, 2010 at 5:33 pm
dan sore ini mungkin dipaksa menata hati lagi
dan memang semuanya ternyata masih abu-abu..p.s : i read this post over and over again
March 30th, 2010 at 8:03 pm
@dv, amin. Semoga semuanya menjadi lebih baik ya
April 2nd, 2010 at 9:28 am
aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh kan sudah kubilaaaaannnggg..*hari ini mampir baca lagi, terharu lg, senang
*
April 2nd, 2010 at 1:13 pm
@ifa, kekeke, ntukan komen yang lama
.