kuburan tionghoaDari judulnya mungkin anda menebak tulisan saya berikutnya adalah sebuah sinopsis film horro khas Indonesia. Nyatanya dugaan anda salah sekali karena apa yang saya tulis merupakan salah satu pengalaman seru saya. Yep, semalam di kuburan, bukan “ranjang bergoyang”, bukan “beranak kembar dalam kubur”, bukan juga “dugem setiap malam jumat kliwon”.

Apakah saya terkait suatu kegiatan paranormal? Oh tidak… Alhamdulillah sampai saat ini saya masih diberikan cukup kewarasan untuk menyadari bahwa mencari rezeki itu tidak perlu menjadikan diri kita sebagai babi yang tolol itu. Tidak lucu juga kalau-kalau nanti istri saya tiap hari harus begadang untuk menjaga lilin yang digunakan sebagai pengganti nyawa saya. Saya masih waras kok.

Lantas apa dong?

Dulu, ketika saya masih SMA, saya termasuk anak yang aktif berorganisasi. Saya mengikuti salah satu ekstrakulikuler abadi nan cihuy, yaitu Pramuka. Salah satu kegiatannya adalah pengangkatan menjadi Bantara. Ya… ukuran anak SMA yang kegiatan-kegiatannya tidak jauh dari perploncoan, pengangkatan menjadi Bantara juga seperti itu. Intinya “mari kita membuat tolol diri kita masing-masing”.

Klimaks acaranya adalah mengambil balok Bantara di sebuah komplek kuburan yang cukup besar di Cirebon. Keren kan? Keren dong… dan yang pasti kegiatannya tengah malam buta.

Jam satu malam, kami para anggota calon Bantara start berjalan dari sekolah. Berbekal setengah batang lilin dan tiga korek api, kami berjalan satu-satu kesana, well… awalnya sih memang satu-satu tapi karena kami cerdas akhirnya kami janjian di suatu tempat untuk jalan bersama-sama. Alhamdulillahnya lagi, senior-senior tidak ada yang mendampingi. Jadi konvoilah kami ke kuburan itu beramai-ramai di tengah malam buta.

Satu jam perjalanan dari sekolah. Kompleks kuburannya merupakan gabungan dari kuburan khas tionghoa dan kuburan pribumi. Anda bisa membayangkan sendiri seperti apa kuburan khas tionghoa, tentunya besar dan megah.

Kami semua berkumpul di depan gapura kompleks kuburan. Ternyata ada beberapa teman kami yang tidak setia kawan dengan duluan mencari balok Bantara dan lekas pulang.

Malam itu angin cukup kencang namun cuaca cerah, bulan pun sedang purnama-purnamanya malam itu. Menggunakan lilin malam itu tidak terlalu efektif, untung sinar bulan bisa membantu kami.

Beramai-ramai kami mencari balok Bantara. Walau sudah ada yang menemukan tapi tetap membantu mencari untuk yang belum menemukan. Entah, kesan saya dengan kuburan khas tionghoa malam itu tidak terlalu mengerikan, hanya kesan angkuh yang saya dapat. Walau kami menemukan sebuah makam yang baru digali lubangnya atau makam orang yang baru saja meninggal, kami tidak takut sama sekali. Malah beberapa kali kami bercanda di sana, memikirkan kalau ada vampire cina yang keluar tiba-tiba atau memplesetkan nama teman-teman kami menjadi nama khas tionghoa. Namun.. begitu pencarian kami mulai ke arah kuburan pribumi, dreeengg… suasananya langsung berubah mencekam. Masih teringat dalam ingatan saya bagaimana berkabutnya kuburan pribumi. Tidak ada satupun dari kami yang berani mencari ke sana. Pohon-pohon besar yang berada di kuburan pribumi menambah ketakutan kami. Telinga dan mata kami menjadi lebih sensitif terhadap apapun. Kalau saja ada suara-suara kecil atau sekelebat cahaya apapun, pasti kami langsung mencari-cari dari mana sumbernya. Belum lagi dengan anjing-anjing liar yang hanya ada di kuburan pribumi.

Syukur, setiap anak sudah mendapatkan balok Bantaranya masing-masing. Karena baru satu jam kami disana dan masih lama dari waktu yang diberikan oleh senior, kami berleha-leha dulu di salah satu kuburan tionghoa yang sangat besar. Mengobrol, bercanda, tertawa, tidak ada satupun yang takut saat itu. Kamipun sempat membahas kenapa kami ketakutan dengan kuburan tionghoa, entahlah… yang kami rasa malah seperti sebuah pondokan.

Ketika menjelang subuh, senior kami datang untuk mengecek dan menyuruh kami untuk segera kembali ke sekolah. Ternyata, teman saya yang duluan pulang pertama kali, dikerjai habis-habisan oleh senior karena ketidaksetiakawanannya. Hehe.. Makanya…

Bookmark and Share

Related posts:

  1. jaman gw masih sma part 2