Anda tahu bagaimana bola tenis bekerja?
Ketika bola tenis kita lempar dengan tenaga yang cukup kuat ke bawah, maka bola tenis itu akan memantul lebih jauh daripada awal tempat dia dilemparkan. Betul?
Yup!
Mari kita analogikan kerja bola tenis dengan kehidupan kita. Bagi saya, filosofi bola tenis ini adalah filosofi orang-orang yang berani. Yang ketika mereka jatuh hingga terjerembab, mereka bisa bangkit dan menggapai lebih tinggi dari tempat awal mereka dijatuhkan.
Filosofi orang hebat.
Pernahkah kamu merasakan titik terendah dalam dirimu? Jatuh menuju tempat yang tak berdasar? Kemudian kamu mengutuki keadaanmu, mengutuki alasan-alasan yang membuatmu tersungkur, mengutuki siapapun, bahkan mungkin mengutuki Tuhan. Saya rasa setiap orang pernah merasakannya.
Jatuh itu memang menyakitkan dan mudah.
Tapi, ada beberapa orang yang memiliki filosofi bola tenis ini. Mereka memiliki elastisitas moral, elastisitas hati dan kekuatan mimpi. Setelah mereka terjatuh, mereka jadikan energi negatif dari kejatuhan mereka sebagai energi untuk momentum kebangkitan. Seperti ancang-ancang, menunduk rendah-rendah kemudian melompat jauh meraih langit, melompat jauh, meraih yang mereka impikan.
Tapi bangkit itu susah dan menyenangkan.
Filosofi bola tenis ini saya dapatkan dari salah satu acara infotainment ketika saya masih SD dulu. Edwin Superbedjo yang menceritakannya. Dia bercerita bagaimana perjuangan dia dulu, jauh-jauh dari Sumatra datang ke Jawa untuk mengadu nasib. Kemudian dia berkata tentang filosofi hidupnya
“Yang namanya hidup itu, harus jadi seperti bola tenis. Kalau bola tenis dilempar kebawah, pasti mantulnya lebih tinggi.
Jangan jadi (maaf) t*i. Dilempar ke bawah, malah mencar kemana-mana, trus bau lagi”
Kata-katanya terus teriang-iang hingga saya dewasa. Saya percaya, setiap manusia diberikan kekuatan elastisitas ini oleh Tuhan. Jatuh itu mudah, bahkan tidak membutuhkan banyak waktu dan bangkit itu susah, membutuhkan banyak percobaan, bahkan terpuruk lagi namun ketika kita berhasil meraih bintang di langit, rasanya sangat menyenangkan. Semua kejatuhan kita menjadi bunga-bunga setiap kita menikmati kebangkitan itu.
Jadi anda memilih untuk tetap jatuh atau mulai bangkit?
Dan
Anda memilih menjadi bola tenis atau “benda lembek” itu?
Itu semua pilihan anda.
Related posts:





July 30th, 2010 at 9:50 am
analogi yang sempurna tentang kehidupan
July 30th, 2010 at 4:22 pm
wah berat euy, kalo org ini dah mulai kesurupan socrates…. heheheh
July 30th, 2010 at 11:06 pm
@thya, kita bisa belajar tentang kehidupan dari apa saja yang bisa kita lihat. Tuhan telah menyediakan semuanya, tinggal bagaimana kita jeli melihatnya