Dewasa Itu Pilihan, Tua Itu Pasti
 

“Dewasa itu pilihan, tua itu pasti”, anonim, suatu saat di sekretariat ASC.

Saya tiba-tiba teringat kata-kata di atas, di saat anggota-anggota ASC bercanda dengan sifat kekanak-kanakannya.

Ranti, sambil menyingsingkan tas slempangannya kemudian berkata “dewasa itu pilihan, tua itu pasti”, berlari ke arah mas Dicky dan beberapa saat kemudian, Ranti membanting mas Dicky. Gedebug!!! Mirip dengan adegan smack down.

Ahahahaha.. kalau saya membayangkan kejadian itu, pasti sebuah senyum terbit di bibir saya. Tindakan kekanak-kanakan yang lucu sekali. Tidak kenal tua atau muda, di ASC pasti saja ada tindakan-tindakan konyol yang mengocok perut. Eits.. tapi jangan salah sangka, dibalik tindakan kekanak-kanakan mereka, di saat mereka harus berpikir serius, bertindak dan mengambil keputusan, barulah mindset dewasa mereka pakai dan saya kagum dengan mereka :) .

“Dewasa itu pilihan, tua itu pasti”

Ahhh.. dewasa… kata-kata yang terus teriang-iang di dalam pikiran saya dalam beberapa minggu ini. Menjadi dewasa itu memang pilihan, mau mengambil resiko dan konsekuensi. Sedangkan menjadi tua itu pasti, tapi menjadi tua dan dewasa bukan selalu menjadi satu paket dalam kehidupan kita. Tidak jarang juga, orang yang kita bilang sudah cukup berumur, namun berfikir tidak selayaknya orang dewasa. Ragu untuk mengambil keputusan dan menggantungkan semuanya.

“Dewasa itu pilihan, tua itu pasti”

Sebuah kalimat yang ingin sekali kusampaikan untuk seseorang disana. Saya berharap, frekuensi otak saya sesuai dengan frekuensi otaknya, dan dengan transfer antar otak ke otak, antara saraf neuortik kami berdua, kalimat di atas bisa ia cerna dan pahami.

“Dewasa itu pilihan, tua itu pasti”

Bookmark and Share
Menata Hati
 

menata hatiBeberapa saat yang lalu, saya baru saja selesai berbincang-bincang dengan sahabat saya tentang masalah hidup, baik hidup saya dan hidupnya. Disitu kami habis-habisan bercerita masing-masing masalah kami, tentang apa yang saja yang kami hadapi.

Dia bercerita tentang apa yang dia terima setelah semua yang menurut dia terbaik untuk dia lakukan dan saya akui apa yang dia lakukan adalah atas nama kejujuran, tidak ada yang bermasalah sama sekali. Tapi entah orang lain berpandangan beda dengan apa yang sudah dia lakukan. Saya sangat mengagumi kedewasaan dia dalam bertindak, namun apa yang terjadi? Perlakuan-perlakuan yang menyakitkan hati malah dia terima, yang menurut saya tidak pantas untuknya. Sekarang dia sedang membina hubungan baik dengan orang yang menurut saya tidak patut menyakitinya.

Saya? saya bercerita tentang kedewasaan, di mana seseorang mau mengambil keputusan dan mau menanggung resikonya. Menceritakan apa saja yang dia mau tentu tidak akan ada orang yang marah, karena itu haknya. Tapi menjadi tidak jujur dan menggantungkan perasaan orang, saya yakin adalah hal yang paling dibenci oleh banyak orang. Sahabat saya juga merasakan hal yang sama, digantung perasaannya.

Kami berdua sama-sama ingin ketegasan, bukan sebuah pernyataan yang mengombang-ambingkan perasaan kami. Kami berdua juga bukan anak kecil lagi, yang harus diberitahu hanya kabar baiknya saja, kami berdua tahu apa itu arti konsekuensi dan resiko.

Continue »

Bookmark and Share