Berbuatlah Sesukamu
 

Suatu saat, berkumpulah Kong Zi  ( Confusius ) bersama murid-muridnya di bawah pohon rindang. Murid-muridnya duduk mengelilingi sang guru, menunggu pelejaran yang akan disampaikannya. Pelajaran yang sedang mereka bahas adalah mengenai moral.

“Murid-muridku, pelajaran hari ini adalah berbuatlah sesukamu”,ucap Kong Zi singkat.

Mereka terperangah mendengar ucapan sang guru. Kaget sesaat, namun mereka yakin akan kebijaksanaan sang guru dan mereka menunggu ucapan-ucapan berikutnya.

“Berbuatlah semau kalian, lakukan apa saja yang kali mau. Merampok, memperkosa, membunuh, menipu terserah kalian. Anggap saja tidak ada hukum yang berlaku.”

Mendengar ucapan Kong Zi, murid-muridnya saling memandang kaget. Ada apa dengan sang guru, apa sudah kehilangan akal?

“Ya, kuucapkan sekali lagi, berbuatlah semau kalian. Apapun itu”.

Beberapa muridnya mulai menampakkan wajah ragu.

“Kalian boleh melakukan apa saja dan kapan saja. Tapi aku minta, kalian lakukan kebaikan pada satu hari sebelum kematian kalian”.

Mendengar ucapan sang guru, legalah hati mereka. Tapi setelah ditelaah kembali kata-katanya, mereka kaget.

“Guru, bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mati?”

Kong Zi hanya tersenyum.

Bookmark and Share
Confusius
 

confusiusConfusius, salah satu tokoh pemikir besar dunia, terkenal dengan kebijaksanaannya yang luar biasa. Dalam mempelajari ilmu, ia rela meninggalkan statusnya sebagai pejabat negara dan pergi mengembara bersama lima muridnya. Motif lainnya adalah ia merasa tidak puas dengan kontribusi yang bisa dia berikan kepada negaranya dengan status pejabatnya, ia lebih memilih untuk menyebarkan ajaran-ajarannya kepada masyarakat.

Zi Xue, adalah salah satu murid Kong Zi ( Confusius ). Zi Xue merupakan murid termuda dari lima murid pertama Kong Zi. Awalnya dia adalah seorang pencuri yang ditemukan oleh Kong Zi, yang cukup bengal dan liar. Dia adalah anak yatim piatu yang ternyata dia sendiri tidak tahu nama aslinya siapa. Zi Xue adalah nama yang diberikan kepadanya yang memiliki arti “Anak yang mandiri untuk belajar”. Dengan kebajikan Kong Zi, Zi Xue bisa menjadi orang yang cukup bijaksana walau darah mudanya yang bergejolak masih mengalir.

Pertemuan awal Kong Zi dan Zi Xue ternyata cukup menarik bagi saya, di awali dengan Zi Xue yang menodongkan pisau hendak mencelakai Kong Zi. Dengan bijaknya Kong Zi bertanya demikian

Kong Zi : “Wahai anak muda, apa yang menjadi sumber inspirasimu?”

Zi Xue ( sambil menodongkan pisau ) : “Pedang. Meski sekarang aku dan pisau ini sama-sama kecil, tapi suatu hari aku akan mengubah dunia ini dengan pedangku”

Kong Zi : “Inspirasimu sama sekali tidak ada salahnya, tapi apa kau hanya bisa mengandalkan pedang?”

Zi Xue : “Aku tidak butuh ilmu apapun!!”

Kong Zi : “Kalau bambu Na Shan ( bambu yang terkenal paling lurus, keras dan bagus ) dipasangkan dengan pedangmu, lalu diasah tajam, percayalah, tak hanya kulit badak yang sangat tebal yang bisa ditembus”

Kong Zi : “Itu akan menjadi pedang yang bisa kau pakai untuk mengatasi segala hal di kehidupan ini”

Terperangah mendengar kata-kata Kong Zi yang begitu bijaksana, Zi Xue lari ketakutan. Dan esoknya ia menghadang rombongan Kong Zi dan memintanya untuk menjadi murid.

Ya, Zi Xue adalah tokoh favorit saya. Walau ia merasa sangat bodoh dari saudara-saudara perjalanannya, ia tetap mau belajar kebijaksanaan dari Kong Zi.

Pemberian nama Zi Xue yang berarti “Anak yang mandiri untuk belajar” tidak terlepas dari kata-kata Kong Zi yang terkenal.

“Saat berusia 15 tahun, aku sudah mulai belajar sendiri. Usia 30 mulai mandiri. Usia 40 sudah tidak ada keraguan. Usia 50 mengerti rahasia alam. Usia 60, telinga bisa membedakan. Usia 70, banyak harapan namun tidak melampaui batas.”,

kata-kata di atas sangat menginspirasikan saya untuk selalu mencari ilmu tanpa peduli berapapun umur saya. Dari confusius, saya belajar banyak dan dari dia juga saya meyakinkan diri saya kalau ternyata saya masih sangat bodoh dengan kehidupan ini.

Confusius, you make me confuse

Bookmark and Share
Tidak Ada Jalan Untuk Keluar
 

100-150 kapal berisi pasukan berpedang, pasukan memanah dan pasukan bertombak melaju menuju suatu pulau. Di pulau tersebut musuh mereka berada.

Begitu sampai di bibir pantai, para pasukan berhamburan keluar, dengan semangatnya mereka langsung menuju daerah musuh. Dalam pertarungan yang sengit itu, tiba-tiba bala bantuan musuh datang yang akibatnya moral pasukan hancur berantakan. Dengan ketakutan, mereka lari terbirit-birit ke pantai untuk kabur melarikan diri kembali ke pulau mereka.

Setibanya di pantai, panglima perang mereka berdiri di depan kapal-kapal yang sedang mengusung sebuah obor dengan api yang sudah menyala. Kemudian sang panglima melempar obor tersebut ke salah satu kapal dan… Bummm!!! Semua kapal terbakar!

Melihat sang panglima sengaja membakar kapal, mereka bingung setengah mati, mereka geram dengan sang panglima, mereka marah.

“Sekarang tidak ada jalan keluar untuk kalian. Satu-satunya jalan keluar yaitu kembali berperang dengan musuh dan menang”, ucap sang panglima dengan lantang dan tegas.

Mereka terdiam.

Dan berbalik ke arah musuh.

Dengan segenap jiwa dan kini yang ada di dalam otak mereka adalah hanya menang atau mati.

Mereka menyerang musuh dengan habis-habisan dan menang.

burn

Diambil dari filosofi perang Sun Tzu

Hidupku.

Sekarang, sudah kututup semua jalan keluar, sudah kubakar semuanya. Satu-satunya jalan yang bisa kutempuh adalah jalan impianku. Demi hidupku, diriku dan cintaku, semuanya sudah kututup.

………………..

Aku sudah tidak memiliki lagi jalan keluar.

Aku hanya punya jalan impianku.

Hingga semuanya terjadi.

Sudah kubakar semua pintu keluar.

Bookmark and Share