Sore itu, aku berangkat dari stasiun pasar senen. Tujuanku adalah sebuah kota yang cukup asing bagiku, sebuah kota di Jawa Timur, Kediri namanya. Kota yang memiliki salah satu kampung yang kujadikan tujuan untuk melatih bahasa inggrisku.
Dari pasar senen, kereta yang akan membawaku adalah Senja Kediri. Kereta kelas bisnis yang berangkat sore dan tiba di Kediri keesokannya.
Aku sangat asing dengan stasiun ini, bukan Gambir yang biasa kusinggahi, keretanya pun belum pernah kunaiki seumur hidup.
Aku berangkat dengan segala keterasingan, bahkan setiba di Kediri saja aku tidak tahu tepatnya harus menggunakan kendaraan apa untuk mencapai tempat yang kutuju.
…..
Kereta menerobos pekat malam Jawa Tengah. Semuanya serba gelap. Kiri kanan rel aku tidak tahu itu apa. Semua penumpang tidur terlelap. Aku hanya bisa menerawang melalui jendela kereta. Semuanya gelap dan asing.
Kulihat telpon genggamku, hanya Garmin dan GPS sebagai andalan dimana aku berada sekarang.
Kubuka inbox message.. tidak ada satupun SMS yang masuk. Aku benar-benar terasing.
Dalam pekatnya malam, pikiranku melayang kemana-mana. Pikiranku melayang ke beberapa bulan yang lalu, beberapa bulan yang sangat menyakitkan, yang membuka semua kebenaran.
Aku benci keadaan ini, aku benci ketika harus terdiam dan pikiranku ke mana-mana.
Dalam pekat malam sebagai kanvasnya, kugambar semua pikiranku disana. Kuberandai-andai kalau semua yang terjadi kemarin itu hanya mimpi.
Bagaimana kalau aku memaafkannya? Tak apalah, bukannya memaafkan itu baik?
Kutulis sebuah pesan, pesan bahwa aku sudah memaafkannya. Pesan tersebut kukirim.
Dalam pekat malam, kukirimkan kata untuk memaafkan. Beberapa bit data kukirimkan untuknya.
….
Ternyata apa yang kulakukan hanya sebuah kesia-siaan. Ketika aku sudah memaafkannya, ternyata luka itu muncul lagi.
Sekarang aku sadar, bahwa paku yang ditancapkan ke kayu, ketika dicabut, lubangnya pasti akan berbekas dan tidak akan mungkin kembali sempurna seperti biasa. Seperti itu keadaanku.
….
Kali itu kedua kalinya aku naik kereta Senja Kediri. Kereta ini tetap membawaku menerobos pekat malam, tapi kali ini aku sudah tidak asing. Dengan kereta ini, aku berpijak dari dari masa lalu dan membawaku ke masa yang baru. Kugambar pada kanvas gelap malam itu dengan hal-hal baru.
Selamat tinggal masa lalu