Nero, The Roman Emperor – Part 2
 

Nero semakin menggila. Melihat kekurangan keuangan, membuat Nero gelap mata. Kalau dulu dia dengan nekat berani mengorbankan daerah jajahan, sekarang dia sendiri berani mengorbankan masyarakatnya. Nero mengeluarkan perintah kepada Tigellinus agar

  1. Menyuruh para golongan aristokrat, pengusaha, pemilik tanah agar menyerahkan semua hartanya kepada Roma
  2. Memberikan tiga opsi pada mereka
    1. Bunuh diri
    2. Dibunuh oleh para pengawal, atau
    3. Semua keluarganya dibunuh ( dan tetap mereka juga dibunuh )

Terjadi bunuh diri massal dan pembunuhan terhadap golongan orang kaya dimana-mana. Masyarakat di luar Roma semakin cemas dengan tindakan gila Nero. Semua yang dilakukannya hanya untuk Roma, semua obsesi gilanya tentang kota Roma. Hari berganti hari, benih-benih benci masyarakat kepada Nero mulai tumbuh. Continue »

Bookmark and Share
Nero, The Roman Emperor – Part 1
 

Saya suka sekali dengan sejarah. Setiap sejarah pasti akan berulang dengan siklusnya, begitu dan begitu dan begitu. Sejarah selalu dibagi dalam beberapa bagian, awal, perjalanan, kemegahan, perlawanan, revolusi, dan kehancuran, itulah siklusnya. Tidak pernah ada satu pun dalam sejarah yang tidak melewati bagian-bagian itu. Dalam setiap celah-celahnya, terdapat intrik menarik. Salah satunya adalah tentang seorang kaisar romawi, Nero, yang terkenal dengan eksentriknya. Kisah Nero ini mengawali periode kehancurannya Kekaisaran Romawi.

neroNero, nama lengkapnya adalah Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus, seorang kaisar yang sangat eksentrik, pecinta seni kelas tinggi… oh tidak, lebih tepatnya adalah sangat-sangat berobsesi dengan seni.

Nero memiliki seorang pengawal yang bernama Ofoniuss Tigellinus, seorang pengawal yang selalu mengikuti komando Nero, setia sampai akhir kisah ini. Nero dan Tigellinus sering menyelinap ke tengah-tengah masyarakat, dengan menyamar mereka tahu bagaimana kondisi masyarakatnya. Saking eksentriknya, Nero tidak segan-segan menunjuk seorang seniman yang terbukti plagiat dan bergulat dengannya, padahal dia seorang kaisar.

Poppeae adalah istri kedua Nero. Tidak kalah eksentriknya dengan Nero, dia juga terobsesi dengan seni. Poppeae dengan keeksentrikannya berani membunuh istri pertama Nero dan akhirnya menjadi istri tunggalnya.

Di balik keeksentrikannya, Nero sangat-sangat mencintai Roma. Ketika terjadi kebakaran hebat selama enam hari yang hampir membumi hanguskan roma hingga 80% wilayah, Nero sangat berduka. Dia khawatir dengan kota dan masyarakatnya. Bahkan dia rela menjadikan istana pribadinya sebagai tempat perlindungan sementara warga Roma.

Dia menangis sedih berhari-hari. Hingga suatu malam, di dalam pelukan poppeae, poppeae meyakinkan dirinya, bahwa dia adalah great emperor yang memiliki kekuatan hebat. Yang mampu mengubah puing-puing Roma menjadi Kota berkelas seni. Poppeae meyakinkan Nero, bahwa dia adalah Dewa.  Ya, baginya Nero adalah dewa. Seketika itu juga Nero langsung bangkit dari tempat tidurnya. Dengan semangat meluap-luap, dia berteriak kencang-kencang bahwa dirinya adalah dewa dan dia akan mengubah Roma menjadi Kota yang hebat, kota yang sangat berseni. Continue »

Bookmark and Share
Battle Of Agrincourt
 

kebetulan gw lagi terbayang melulu ma quotenya napoleon bonaparte di postingan gw yang sebelumnya. ya.. siapapun yang menempati tempat tertinggi, dialah pemenang perang tersebut.

kemarin baca-baca kisah tentang art of war. ketemu dengan artikel menarik, judulnya battle of agrincourt.

Battle Of Agrincourt

Pasukan inggris yg kalah dan mau mundur dari perancis dikejar oleh pasukan perancis.

Pasukan inggris yg kalah dalam pertempuran sebelumnya dah kehilangan seluruh knightnya dan swordmannya, hanya tersisa 7000 prajurit dimana 6000 diantaranya adalah Longbowmen, 1200 longbowman ini adalah pemanah elit kerajaan yang disebut King’s Yeoman. 1000 lagi terdiri dari a few knight survivor, swordie, maceman,etc.

Pasukan perancis berjumlah 22.000 prajurit ditambah pasukan bantuan dari sekutu perancis di daerah sekitar mencapai 10.000 prajurit. Pasukan perancis memiliki 5.000 Crossbowmen, 10.000 grandeur, 7.000 Men-at-arms.

Komandan pasukan inggris adalah Raja Henry V, mereka bertujuan untuk segera pergi ke Calais sebagai benteng pertahan terakhir dan kemudian segera melintas selat untuk kembali ke inggris.

Kesalahan strategi perancis adalah mereka terlalu percaya diri dan memotong jalur pelarian tentara inggris dari arah calais dan mengepung tentara inggris di Agincourt. Masalahnya adalah agincourt ini ada didaerah berbukit, sedangkan pasukan perancis berada ditanah lapang yg luas, jadi inggris mendapatkan keuntungan posisi terrain.

Continue »

Bookmark and Share