Saya suka sekali dengan sejarah. Setiap sejarah pasti akan berulang dengan siklusnya, begitu dan begitu dan begitu. Sejarah selalu dibagi dalam beberapa bagian, awal, perjalanan, kemegahan, perlawanan, revolusi, dan kehancuran, itulah siklusnya. Tidak pernah ada satu pun dalam sejarah yang tidak melewati bagian-bagian itu. Dalam setiap celah-celahnya, terdapat intrik menarik. Salah satunya adalah tentang seorang kaisar romawi, Nero, yang terkenal dengan eksentriknya. Kisah Nero ini mengawali periode kehancurannya Kekaisaran Romawi.
Nero, nama lengkapnya adalah Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus, seorang kaisar yang sangat eksentrik, pecinta seni kelas tinggi… oh tidak, lebih tepatnya adalah sangat-sangat berobsesi dengan seni.
Nero memiliki seorang pengawal yang bernama Ofoniuss Tigellinus, seorang pengawal yang selalu mengikuti komando Nero, setia sampai akhir kisah ini. Nero dan Tigellinus sering menyelinap ke tengah-tengah masyarakat, dengan menyamar mereka tahu bagaimana kondisi masyarakatnya. Saking eksentriknya, Nero tidak segan-segan menunjuk seorang seniman yang terbukti plagiat dan bergulat dengannya, padahal dia seorang kaisar.
Poppeae adalah istri kedua Nero. Tidak kalah eksentriknya dengan Nero, dia juga terobsesi dengan seni. Poppeae dengan keeksentrikannya berani membunuh istri pertama Nero dan akhirnya menjadi istri tunggalnya.
Di balik keeksentrikannya, Nero sangat-sangat mencintai Roma. Ketika terjadi kebakaran hebat selama enam hari yang hampir membumi hanguskan roma hingga 80% wilayah, Nero sangat berduka. Dia khawatir dengan kota dan masyarakatnya. Bahkan dia rela menjadikan istana pribadinya sebagai tempat perlindungan sementara warga Roma.
Dia menangis sedih berhari-hari. Hingga suatu malam, di dalam pelukan poppeae, poppeae meyakinkan dirinya, bahwa dia adalah great emperor yang memiliki kekuatan hebat. Yang mampu mengubah puing-puing Roma menjadi Kota berkelas seni. Poppeae meyakinkan Nero, bahwa dia adalah Dewa. Ya, baginya Nero adalah dewa. Seketika itu juga Nero langsung bangkit dari tempat tidurnya. Dengan semangat meluap-luap, dia berteriak kencang-kencang bahwa dirinya adalah dewa dan dia akan mengubah Roma menjadi Kota yang hebat, kota yang sangat berseni. Continue »