Maaf Dari Orangtua
 

Beberapa hari yang lalu, si mama menelpon saya. Saya pikir si mama mungkin hanya menanyakan kabar saya, ternyata telpon kali ini berbeda.

“Mang, lagi apa?”

“Lagi kerja mah, kenapa mah?”

“Nggak, mama minta maaf yah”

” L-l-loh kenapa mah?”, jawab saya bingung dan kaget.

“Mama minta maaf, papa juga sekalian dimaafin yah. Mama minta maaf kalo-kalo pernah keluar dari mulut mama, baik yang disengaja atau tidak disengaja, keluar kata-kata yang meragukan anak-anak mama. Keluar kata-kata yang tidak percaya sama kemampuan anaknya”

“Loh.. kok gitu mah? Mama kenapa?”

“Nggak, mama barusan beli buku, trus mama baca. Katanya kata-kata orangtua itu doa paling mujarab, mama sih udah tau. tapi ternyata kata-kata yang nggak disadarin ketika diucapkan itu juga termasuk doa”

“Mama takut kalau-kalau mama dulu pernah ngeraguin arif. Mana ada sih orangtua yang gak mau anaknya sukses. Tapi ya itu, mama khawatir kalo ada celetukan mama papa, baik itu bercanda atau nggak, yang gak percaya sama keberhasilan anaknya.”

Saya hanya diam…

“Papa juga dimaafin yah mang”

“Iya mah..”

“Mama insya Allah udah maafin kesalahan-kesalahan arif, papa insya Allah juga begitu. Arif nanti telpon si papa yah, minta maaf sama papa, siapa tau dulu papa pernah sakit hati sama arif”

“Iya mah..”

Telpon pagi itu cukup membuat saya kaget. Well.. jujur saya belum menelpon si papa, karena saya sendiri masih bingung…

Saya teringat, sewaktu saya tidur di kamar orangtua, ketika saya terlelap namun saya masih mendengar, si mama mengucapkan kata-kata yang terus terekam dalam benak saya, yang kata-kata itu merupakan doa bagi saya. Yang tidak pernah diucapkan langsung ke saya ketika saya terjaga, tapi ternyata diam-diam didoakan. Semoga kata-kata mama waktu itu terkabul yah mah…

Bookmark and Share
Mamaku, Guru Ikhlasku
 

Mother's Love by Life in AsiaNZ.

Saya ingin bercerita sekali lagi tentang wanita yang sangat kuat, yaitu mama saya. Yep.. mama yang membawa banyak arti dan pelajaran dalam hidup saya, termasuk salah satunya adalah belajar ikhlas.

Beberapa bulan yang lalu, saya dan keluarga saya dikejutkan oleh berita buruk. Mama divonis penyakit mematikan yang tidak dapat disembuhkan, hepatitis C. Mendengar berita itu, membuat saya lemas dan terdiam hari itu. Si papa berkali-kali menghela nafas, ya.. saya yakin papa pasti mengalami kesedihan yang mendalam walau tidak ada air mata yang menetes. Mama? Mama tidak seperti kami semua, mama malah semakin lebih banyak tersenyum, untuk ukuran orang yang divonis penyakit mematikan mama memang aneh.

Sepulang dari rumah sakit, saya langsung masuk kamar dan mengunci diri sendiri. Saya berlarut dalam kesedihan, walaupun saya tahu cepat atau lambat saya akan kehilangan orang tua tapi saya tidak membayangkan akan kehilangan seperti ini.

Ketika saya menjenguk si mama di rumah sakit, sekali lagi mama lebih banyak tersenyum. Selera makannya malah tidak berkurang sama sekali. Semua makanan yang disediakan rumah sakit dihabiskannya. Mama yang banyak berbicara dan setiap bahan pembicaraannya berbotot, tetap seperti adanya. Mama yang suka membaca buku dan sering meletakkan buku itu di bawah bantal, tetap seperti biasa. Kacamata tidak boleh jauh dari dirinya. Koran baru selalu harus ada tiap hari. Televisi harus menyiarkan selalu acara berita. Mama tetap seperti itu, walau beliau tahu beliau divonis penyakit mematikan. Seolah-olah tidak ada penyakit di dalam dirinya

Entah, tiba-tiba saya seperti anak kecil berumur delapan tahun di hadapannya. Saya tiduran di kakinya, ingin sekali mengatakan bahwa anaknya ini sangat sedih. Tapi saya tahu, mama saja yang sakit malah tegar kenapa kita yang tidak sakit malah tidak tegar.

“Yang namanya umur siapa sih yang tahu, walau mama sakit belum tentu juga mama yang dipanggil duluan oleh Allah. Ya udah, santai aja kan? Jalani saja hidup. Sambil mencari pengobatan, ya mama lakukan saja apa kebiasaan mama seperti biasa”

Deg… Betapa ikhlasnya mama menjalani hidupnya. Ketika akan pulang, kucium tangannya lama-lama. “Ma.. cepat sembuh ya”

Beberapa minggu kemudian, di rumah saya diadakan pengajian untuk mendoakan kesehatan si mama. Alhamdulillah, banyak sekali yang datang. Ya, ini buah hasil mama yang sangat supel, mama yang mau bergaul dengan siapa saja, mama yang mau menolong siapa saja. Lagi-lagi saya hanya di dalam kamar, saya tidak ingin orang-orang tahu kalau saya menangis…

Keajaiban itu datang. Ketika mama pertama kali berobat ke salah satu klinik hati di Jakarta, kami semua dikagetkan dengan hasil laboratorium yang didapat. Si mama ternyata tidak sakit sama sekali. Semuanya sehat wal afiat. Bahkan si papa sampai harus meminta sumpah si dokter dua kali bahwa si mama tidak sakit. Mendengar kabar itu, mata saya meneteskan air mata bahagia.

Ma… Alhamdulillah, lebaran kali ini masih ada mama.

Bookmark and Share
Untuk mama
 

mom Untuk sesaat waktu, saya ingin sekali mengenalkan mama saya. Yup, orang yang telah melahirkan saya ke dunia ini, orang yang telah melindungi saya selama 9 bulan di dalam kandungannya dan juga orang yang telah membesarkan dan mendidik saya hampir 24 tahun ini.

Pendidikan mama saya? Mama cuman seorang tamatan SD yang pernah tidak naik kelas dua kali. Ya memang, si mama dengan ukuran pendidikan formal bisa dibilang sangat rendah sekali.

Tapi untuk urusan negosiasi, insting bisnis, membaca keadaan dan peluang, saya dengan bangga menyebutkan mama saya jagonya.

Saya pernah mendengar cerita dari abang saya sewaktu mereka kecil dulu, si mama ternyata pernah jualan kacang rebus di pasar. Weee… saya tidak pernah mendengar cerita itu sebelumnya, karena yang saya tahu hanya keadaan kami sekarang yang bisa dibilang sudah berkecukupan bahkan bisa dibilang lebih.

Mama memang seorang wanita yang tangguh tapi juga lembut. Walau mama punya usaha tapi mama tidak pernah lupa tanggung jawabnya sebagai seorang ibu dan seorang istri. Mama masih tahu posisinya kalau papa yang punya tugas utama sebagai pencari nafkah keluarga. Mama tidak pernah merasa angkuh di depan papa. Continue »

Bookmark and Share