
You know how to strengthen yourself?
First, you have to learn how weak and small you are
picture taken from here

You know how to strengthen yourself?
First, you have to learn how weak and small you are
picture taken from here
Masih berbekas dalam ingatanku, pesawat yang kunaiki ini siap take-off, menuju daerah asing yang sama sekali belum kukenal. Panduan kesana hanya seadanya, modalku hanya nekat.
Pesawatku membelah hujan dan petir.
Selang setengah jam, kulihat pulaumu dari balik jendela pesawat. Seperti inikah tempat yang kau tinggali? Apakah aku sudah dekat denganmu?
Pesawatku berputar-putar sebentar di udara, mencari celah dalam badai untuk bisa mendarat di sebuah kota. Sebuah kota yang jaraknya satu jam dari kotamu. Apakah aku sudah semakin dekat denganmu?
Di landasan yang basah diguyur hujan itu, pesawatku berhasil mendarat. Kulihat nama bandara sesuai dengan yang sering kau sebutkan. Kau, aku sudah berdiri di pulaumu. Kini jarak kita hanya satu jam lagi. Aku tidak seperti dulu, yang berjarak satu lautan di antara kita. Dalam khayalku, aku berharap hujan ini juga ada di kotamu. Agar setiap harap dan cemasku kau ikut rasakan. Berharap kita dalam satu hujan. Sudah semakin dekat aku dan kamu?
Perjalanan satu jam lagi menuju kotamu kutempuh. Kugenggam erat jari jemariku. Aku risau dan cemas, bertemu dengan kota kelahiranmu. Seperti apa suasananya, seperti apa bangunannya, seperti apa tempat yang kau biasa kunjungi, seperti apa kotamu akan menyambutku.
Kotamu menyambutku dengan warna warni malam hari, dengan sungainya yang terkenal itu. Di malam itu, kita bernafas dalam satu udara yang sama, tidak seperti dulu lagi. Sekarang kita sudah berjarak berapa kilometer lagi? Sudah semakin dekatkah?
Setelah kita berjarak kurang dari satu meter, ternyata yang kulakukan adalah membuka semua kabut hitam di antara kita. Banyak hal yang ternyata tidak kuketahui di balik setiap kata rindu dan sayangmu. Ya, aku memang salah. Aku banyak tidak menepati janjiku. Hari itu, aku sudah benar-benar siap melepaskanmu. Tidak apa-apa, asal demi kebahagiaanmu.
Kau yang sudah kulepaskan, ternyata masih juga berkali-kali mengucapkan kata-kata suci itu. Entah bagimu apakah itu masih suci, tapi bagiku itu sebuah kata sakral yang tidak bisa seenaknya diucapkan ke orang lain. Kata sakral yang menurutku dengan kata itu, kebahagiaan yang didapat adalah dari menerima semua kekurangan tanpa mencari kesempurnaan. Ketidaksempuranaan yang sempurna.
9 bulan yang lalu..
Mengingat hal ini bukan untuk apa-apa. Aku percaya bahwa untuk bisa melangkah ke depan, kita harus melihat dari mana kita berawal.
Sekarang, aku siap. Siap untuk mengambil langkah itu lagi. Siap untuk berbagi mimpi dan cita. Siap berkhayal seperti apa kita sepuluh tahun lagi atau seperti apa nanti ketika sakit pinggang mendera kita.
Kau yang berani, maukah kau kalau kuajak bercanda dan berbagi sedih? Tidak, tidak hanya untuk saat ini. Tapi seterusnya, seperti yang sering kau tulis, seperti yang sering teman-temanmu tanyakan padamu.
Seperti cerita socrates dan plato tentang cinta, aku mulai merasakan ketidaksempuranaan yang sempuna itu.
Aku siap, dan bila kau siap, katakanlah
bryan adams – i’m ready