going the extra mile

Well, sebelum saya bercerita, saya ingin menceritakan kondisi saya belakangan ini. Yup, tentang kondisi, mungkin saya sedang jenuh-jenuhnya dengan rutinitas saya, terutama pekerjaan. Pekerjaan yang saya jalani ini sebenarnya adalah pekerjaan idaman saya, jauh dari dulu sudah saya canangkan. Saya sudah jauh-jauh hari menutup telinga dan memasang kacamata kuda dengan pilihan saya ini, ya saya tidak akan berubah.

Tapi entah, beberapa hari belakangan ini gundah mendapati diri saya. Saya jenuh, itu inti utamanya. Berbagai ekspetasi yang saya inginkan, rasa-rasanya semakin jauh untuk digenggam. Belum dengan keraguan orang-orang terdekat, saya semakin gundah.

Beruntung, di tengah kegundahan saya, ada seseorang yang selalu menemani dan mendukung, yang semoga kelak menjadi istri saya. Dengan segenap impian kami, semangat terus dilimpahkannya.

Saya tahu bahwa setiap jalan menuju sukses itu tidak akan pernah mudah. Tidak ada namanya jalan pintas sukses, titik. Saya sedang merasakan berbagai macam halangan yang saya tahu kalau halangan itu bisa dilewati, berarti saya sudah setingkat lebih tinggi dari sebelumnya.

Di saat motivasi saya belum genap terkumpul lagi, dia mengenalkan saya dengan salah satu novel, “Negeri 5 Menara”. Dengan sedikit sinopsis yang dia ceritakan, saya tertarik untuk meminjamnya.

Ada banyak kalimat yang saya bisa ambil dari buku, salah satunya adalah man jadda wajada, kalimat yang banyak disebutkan di novel tersebut. Well, itu memang salah satu kalimat favorit saya, tapi bukan itu sangat tertera di dalam hati saya, tetapi going the extra mile.

Ketika orang lain hanya mampu mengerjakan selama 10 menit, maka lakukanlah selama 8 menit

Jika orang lain berhenti di detik ke 10, maka menyerahlah di detik ke 20.

Kalimat “Going the extra mile” benar-benar menggetarkan saya, seolah-olah mengingatkan saya bagaimana cara untuk menggapai kesuksesan. Kalimat ini juga yang membuka ingatan saya ketika saya masih duduk di bangku SMP kelas 1.

Dahulu, setiap pelajaran matematika, minimal seminggu sekali, siswa-siswa diharuskan mengerjakan tugas-tugas yang ada di buku perlajaran yang isinya hampir semuanya berupa tugas. Setiap tugas dikerjakan di buku khusus tugas. Sang guru setiap mengajar akan menunjukkan bab-bab mana saja yang harus dikerjakan.

Entah kenapa, setiap saya mengumpulkan buku tugas jarang sekali mendapatkan nilai sempurna, padahal materi-materi sudah saya kuasai apalagi matematika adalah pelajaran favorit saya. Tapi semua itu saya anggap biasa saja, karena salah satu dalam keyakinan saya adalah bahwa semuanya tidak ada yang sempurna. Semuanya berjalan biasa-biasa saja.

Hingga akhirnya saya mendapati salah satu teman kelas saya yang nilai buku tugasnya selalu sempurna. Saya tercengang, bagaimana bisa? Padahal buku tugas kami jelas sama dan saya juga mengerti pelajarannya. Kalau nilai tugasnya tidak selalu sempurna, saya masih bisa memaklumi, tapi ini tidak! ini S-E-L-A-L-U sempurna, ya selalu!

Dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar di pikiran, saya mencoba mendekatinya. Saya temukan jawabannya kenapa nilai tugasnya selalu sempurna, ternyata dia selalu mengerjakan bab-bab tugas berikutnya, walaupun belum disuruh. Nilainya sempurna semua. Itulah jawaban pertanyaan saya.

Going the extra mile

……………………………………………………………………………………….

Going the extra mile, walaupun bukan jawaban inti dari kegundahan saya selama ini, tapi efeknya cukup terasa untuk memotivasi saya. Kesadaran saya bahwa untuk sukses itu dibutuhkan kesungguhan yang benar-benar, semakin tumbuh.

Berjuang di atas rata-rata orang, bersusah-susah dahulu dan petik hasilnya. Berjuang dengan ikhlas dan tawakkal.

 

NB : satu lagi kalimat favorit saya

man thalabal ula sahiral layali, siapa yang ingin kemuliaan, maka bekerjalah sampai larut malam

Bookmark and Share