Special Class In Global-e
 

Another great class  in Pare. Special one with the owner of Global-e, Mr. Toto . A progressive and interesting class that i’ve had. Ahh… two weeks with you all… it’s so short…

Well, this is my last class… and farewall all.. perhaps we will meet again next time

Bookmark and Share
Madness Nite With Conversation Class Part II
 

Having a great and excellent class

Nice to know you all guys

See you when i see you

Bookmark and Share
Madness Nite With Conversation Class
 

Belajar bahasa inggris di Pare terkenal dengan singkatnya, bahkan dengan pertemanan. Kadang kita hanya bisa mengenal teman-teman kita selama dua minggu dan setelah itu kita tidak akan bertemu lagi, karena mereka bisa jadi sudah pulang ke kotanya masing-masing.

Tapi menurut saya, dua minggu itu cukup untuk saling mengenal.

Sampai jumpa lagi teman-teman, kalau ada kesempatan semoga kita bertemu lagi

Bookmark and Share
Hacienda San Pablo
 

hacienda san pabloDulu di dalam benak saya tentang Pare dulu adalah sebuah kampung yang benar-benar masih alami, yang belum terlalu tersentuh modernisasi. Ternyata, setelah beberapa hari saya tinggal di Pare, menurut saya tidak berbeda jauh dengan kampung mahasiswa di perkotaan namun yang jelas jauh lebih asri dan alami di sini.

Suatu hari, Miss Isa mengajak saya dan teman kelas saya hang out di sebuah tempat yang bernama Bali House atau Hacienda San Pablo. Wew.. nama yang kebarat-baratan. Dalam benak saya, tempatnya adalah sebuah kafe yang disesaki asap rokok dan minuman keras. Hmm.. tapi tidak mungkin, karena kegiatan agama di Kampung Pare ini sangat sering dan tentu pengetahuan agamanya lebih kuat. Oke deh.. kami beramai-ramai ke sana.

Tiba di suatu gang, yang dipinggirnya disesaki oleh sepeda-sepeda onthel, rupanya kafe itu agak masuk ke dalam. Begitu saya masuk ke dalam gang, melewati beberapa rumah penduduk… wew…. tempatnya nyaman sekali. Konsepnya mirip garden party namun lebih ke Indonesia. Ada aliran sungai dan sekumpulan pohon bambu yang ketika angin bertiup, daun-daunnya saling bergesekan dan menimbulkan bunyi yang merdu. Kita bisa makan sambil lesehan atau duduk di kursi. Bahkan ketika malam, suasana romantis di tempat ini sangat terasa. Lilin-lilin dinyalakan di setiap meja.

Di sebelah selatan merupakan sekumpulan kamar yang disewakan kepada pendatang. Kamar-kamarnya saja cukup mewah. Dan di sebelah timur, terdapat satu kamar yang cukup besar yang didalamnya terdapat home theater yang bisa kita sewa dengan biaya yang sangat murah. Di dalam ruang home theater ini disetting sangat nyaman. Terdapat kolam kecil di depan set home theaternya, penerangan yang tidak menyilaukan dan sofa serta bantal agar kita nyaman ketika menonton.

Untuk makanan dan minumannya pun tergolong murah sehingga tempat ini selalu ramai dikunjungi ketika program sudah selesai. Tak jarang orang-orang yang datang ke sini betah berjam-jam entah hanya mengobrol atau bermain kartu. Selain itu yang paling saya suka adalah selera musik sang pemilik, Mr Masrur, yang jazzy. Beliau suka menyetel musik-musik jazz dengan sayup-sayup. Ahhh… you have a good taste, mister.

Pemiliknya adalah seorang mantan guide turis di Bali yang sangat-sangat ramah. Bahkan ketika saya coba berbincang-bincang dengan bahasa inggris dengan beliau, beliau sempat-sempatnya memperbaiki perkataan saya. Beberapa jam saja beliau sudah mengingat nama saya.

Ahhh.. saya ingin ke sini lagi nanti :D .

Bookmark and Share
Mencari Sesuap Nasi Padang di Pare
 

Seminggu saya hidup di Pare, sudah tentu saya harus beradaptasi baik dengan lingkungan maupun masyarakatnya. Tapi yang menurut saya paling berat adalah adaptasi dengan selera makan. Lima hari pertama saja saya hanya bisa makan sehari sekali, baru besoknya saya bisa makan untuk malamnya, dan itu hanya nasi goreng. Nasi goreng lagi.. nasi goreng lagi. Dan terbukti sudah, beberapa hari kemudian saya sariawan.

Saya agak sulit beradaptasi dengan selera makan orang asli di sini. Ya.. sebagai lidah orang sumatra yang lebih memilih nasi yang agak keras, di sini saya dihadapkan dengan nasi yang agak-agak lembek. Nasi tim bukan… nasi biasa bukan.. Apalagi kalau nasinya diberi kuah sayur.. brrrr…. menyentuhnya saja saya tidak mau. Alhasil.. setiap saya makan di warung, saya tidak pernah pakai sayur. Hanya karena tidak mau memakan nasi lembek. Belum dengan lauk pauknya yang menurut saya kurang spicy. Ugh…

Seminggu saya hidup di sana, perut saya sudah menginginkan nasi padang. Saya ingin bumbu rendang, saya ingin sambal hijau, saya ingin kuah gulai… ARGHH!!!!!

Hari minggu tidak ada program. Saya sudah berniat untuk menjelajah kota Pare. Berangkatlah saya dengan sepeda onthel. Sekali lagi, SEPEDA ONTHEL. Berikut napak tilas perjalanan saya mencari sesuap nasi padang.

klik gambar untuk lebih jelas

Saya memulai perjalan dari office dan berakhir juga di tempat tersebut. Perjalanan saya hingga memutari jalan utama kota Pare dan hasilnya adalah NIHIL. Innalilahi roji’un… tidak ada satupun warung nasi padang selama perjalanan saya. Dan anda-anda semua bisa membayangkan, berapa kilometer yang sudah saya tempuh untuk mencari nasi padang?!!! Serta untuk menambah dramatisnya perjuangan saya, saya hanya menggunakan sepeda onthel. Keren kan? Ketemu nggak.. laper iya nambah parah..

Apakah saya sudah bertanya dengan warga aslinya di mana warung nasi padang? Ohhhh!!! Sudah!! Sayangnya dijawab dengan menggunakan bahasa jawa yang saya sendiri tidak mengerti. Yang saya tangkap dari jawaban itu adalah “Kulon.. Wetan.. Ngisor”… ahh.. sudahlah…

Berangkat jam 9, dan sampai di office jam 11. Saya leyeh-leyeh dulu di sana. Saya smsin Miss Isa,

“Miss Isa, would you like to tell me where i can find some padang food?”. Treng.. dibalas

“Weee.. Nothing! I Haven’t known yet!“. pupus harapanku satu. Ahh.. tidak.. saya masih yakin.. Kalau keinginan saya ditanam kuat-kuat dan saya ikhlas, pasti terkabul.

Saya lihat ada Mr. X dan Mr. Y di office.

Mister.. di sini ada yang jual nasi padang gak sih? Aku udah keliling kota Pare gak nemu satupun”, tanya saya ke Mr. X.

“Masa? Ada kok, di samping kantor polisi. Kamu ke kota naik apa? Motor?”

“Kagak, ntu naik sepeda”

“Gokil! gila kamu?! Eh pengen padang yah?! Yuk yuk yuk, aku juga pengen”,

“Ehh!! Pengen padang yah? Gw juga pengen nih!”, timpal Mr. Y

Alhamdulillah.. akhirnyaaa :D . Dan alhamdulillah lainnya, kita ke sana tidak naik sepeda lagi, tapi motor.

#####################################

Mr. Y makan dengan lahapnya. Mr. X dengan rakusnya meminta porsi lebih. Setiap nasi padang yang masuk ke dalam kerongkongan saya, rasanya seperti surga. Lebay? Ah.. nggak, sumpah.. itu rasanya seperti nasi padang yang paling nikmat sepanjang hidup saya karena saya mendapatkannya dengan perjuangan, dengan setiap keringat yang jatuh akibat menggenjot sepeda onthel.

Perut kenyang… dan sesi obrolan santai pun dimulai

“Ahh.. senang gw.. masa tadi bangun-bangun dapat rezeki nomplok sejuta”, kata Mr. Y.

“Nahh.. beneran nih, kita makan dibayarin kan bro?”, timpal Mr. X.

“Santaiiii!!!! Gw bayarin semuaaa!”. Waw… benar-benar rezeki buat saya. Makan nikmat, gratis pulak!

“Wah.. ada apaan nih mas?”, tanya saya dengan senyum sumringah.

“Baru dapat rezeki gara-gara bola tadi malam. Padahal nonton aja nggak.. ehhh tadi pagi dibangunin, tiba-tiba ada aja sejuta”.

“Wow.. gila! Kok bisa gitu mas?! Ikutan kuis?”

“Ahahahaha.. nggak lah”, jawab Mr. Y sambil melihat saya sambil senyam-senyum.

Ohh.. ya sudahlah. Saya tidak bisa berpikir panjang karena perut saya sudah kenyang. Mau mikir juga udah alot.

……………..

……………..

……………..

TEOOOOOOOT!

Dapat duit dari hasil pertandingan bola….. tapi bukan gara-gara kuis….

…………….

JRENG!!!!

Innalilahi wa innalilahi roji’un. Astagfirulloh… Gila.. saya makan nasi padang, dibayarin dari uang hasil “itu”?!

ADDDUHHH!!!!!!!!

Sumpah.. perut memang kenyang.. tapi pikiran tidak tenang. Saya tidak mau darah dan daging hasil makanan tadi menjadi haram. Oh.. ya Allah… Sampai di office, saya langsung cabut dengan sepeda onthel.. Berharap saya bertemu dengan pengemis, ingin sekali uang yang saya rencanakan untuk makan tadi saya berikan kepada mereka. Astagfirullah….

#########################

Besoknya, ketika saya ada program di office, saya bertemu dengan Mr. X.

“Hey wan!! Padang lagi yukkss!!”

Saya hanya menjawab iya dan saya langsung kabur…

Bookmark and Share
Bibir Monyong Itu Wajib
 

“Wan.. ajarin gw dong.. Dengerin gw yah”, si Ria ujug-ujug datang dengan membawa selembar text yang diambil dari AJ Hoc.

“bla bla bla bla bla”

“Salah tuh.. bukan mAst, tapi most. Pake dipthong o dan ?, trus rada monyong”

“Ha.. monyong? Awas lo kalo ketawa”, sambil me-neplak paha gw. Ee.. buset

“bla bla bla bla bla”

Sampai hingga di suatu kalimat.

It is successful. You will succeed.

“It is… saks?sful”

“Jiahh.. salahhh!! s?ks?sf?l”,

“Ha? s?ks?sf?l?”

“Salah Ria… s?ks?sf?l”

“s?ks?sful”, bibirnya dimiring-miringin ke kiri.

“Ful lagi, masa iya sukses dan tolol. Ah lo mah ngada-ngada aja. Listen to me, s?ks?sf?l!”

“s?ks?sf?l”

“Salaahhhh Riaaaaa”

Gaplok! Dia ngegaplok lengan gw.

“Ahhh.. Ridwaannnn… Susahhhhhhh!!!”

Berkali-kali Ria nyebut kata successful.. berkali-kali juga dia memonyongkan bibirnya, entah ke kiri entah ke kanan. Dalam selama itu juga saya digaplok-gaplokin dengan dia.

PS : Saya menyesal telah menghina Cinta Laura… Sekarang baru kerasa susahnya nyebutin satu kata yang baik dan benar dan korbannya ya tangan dan paha saya.. Maaf ya cin

Bookmark and Share
Welcome to Pare ( Chapter Two )
 

SELAMAT DATANG DI KAMPUNG INGGRIS, PARE, KEDIRI

english area, dont speak alien

Bahkan di beberapa tempat, terdapat peringatan seperti only monkey who doesnt speak english. Serta untuk program camp mewajibkan setiap penghuninya untuk berbahasa inggris selama 24 jam, apabila ada ucapan bahasa indonesia atau bahasa daerah maka akan mendapatkan punishment.

Teman kelas speaking saya, Ahmad, yang terdapat pada foto diatas. Sepeda merupakan kendaraan transportasi yang jamak di gunakan di Pare. Dengan modal Rp. 50.000 serta jaminan KTP, anda bisa menyewa sepeda onthel untuk satu bulan.

suasana kelas basic pronunciation

Di Pare terdapat kurang lebih sekitar 40 english courses. Dari yang kelasnya di dalam gedung hingga yang menyatu dengan alam seperti kelas basic pronunciation yang saya ikuti di atas. Well, ternyata saya baru tahu kalau cara pengucapan bahasa inggris yang paling benar dan baik adalah dengan caranya si Cinta Laura dan ternyata yang kita pelajari di sekolah dan di kampus banyak sekali kesalahannya seperti pencampuradukan america style dan british style. Dengan belajar pronunciation selama dua hari saja sudah cukup menyiksa leher dan tenggorokan. Jadi siapkan vitamin c sebanyak-banyaknya jika anda ingin mengikuti kelas ini.

hang out dengan teman-teman kelas speaking

Isn’t it lovely?

Pare, sebuah kampung yang masih asri dan setiap penduduknya pun ramah. Menurut saya, belajar bahasa inggris di Pare jauh lebih baik dibandingkan mengikuti kursus-kursus atau lembaga yang menurut saya menang di bonafitnya saja. Di sini juga kita diajarkan kesederhaan dan kebersamaan. Itu yang saya suka.

So… kalau kalian punya waktu, luangkan waktu kalian kesini. Percaya deh.. teman saya saja yang benar-benar tidak bisa bahasa inggris, hanya dalam waktu empat hari untuk kepercayaan diri dan speakingnya saja sudah lumayan. Biaya? jauh-jauh lebih murah dibandingkan di kota lain. Banyak orang jauh-jauh datang ke sini, contohnya adalah sebelah kamar saya ditempati orang timor leste yang jauh-jauh dari negaranya datang kesini untuk belajar bahasa inggris.

Ayo, jangan ragu untuk datang ke Pare yang menawarkan pengalaman tak terlupakan. :)

PS : bersyukurlah sinyal 3G telkomsel bisa sampai ke kampung Pare :D . Flash saya masih bisa diandalkan. So.. now i’m truly a  post modern man, can work everywhere :D

Bookmark and Share