Kla Project – Hidup Adalah Pilihan
 

beribu warna kau mampu lukiskan di atas kanvas bingkai kehidupan
tak usah meragu saat kau melangkah ikuti hatimu menentukan arah

segala yang kau inginkan mampu engkau dapatkan
hidupmu adalah pilihan

kadang kau rasa seolah dunia
(menapik rencana) menapik rencana
menggoyahkan jiwa
(hingga kau mengira) hingga kau mengira
itu takdir belaka (itu takdir belaka)

percaya yang kau impikan, mampu engkau wujudkan
hidupmu adalah pilihan
hidupmu adalah pilihan

andai mesti aku pindahkan
suatu gunung yang tinggi
dengan iman ku percaya terjadi

hidupmu adalah segala yang kau inginkan
mampu engkau dapatkan
hidupmu adalah percaya yang kau impikan
mampu engkau wujudkan
hidupmu adalah pilihan

hidupmu adalah pilihan
hidupmu adalah pilihan
hidupmu adalah pilihan

#######################################################

Engkaulah yang memiliki hidupmu sendiri, engkau sendiri yang menentukan arah

Engkau adalah milik dirimu sendiri

Harga dirimu tidak akan pernah diambil

Karena ia sudah tertanam di dalam dirimu

Milikmu seorang

Bookmark and Share
Jangan Ganggu Banci
 

bencongDalam hidup saya, saya memiliki satu kesimpulan tentang strata kekuatan kaum manusia. Well.. tanpa bermaksud menyinggung salah satu kaum, saya bagi menjadi tiga kaum berdasarkan kekuatannya.

  1. Wanita
  2. Pria
  3. Waria a.k.a Banci

Jika anda para wanita yang menjunjung tinggi nilai-nilai feminisme, maafkan saya, saya tidak bermaksud merendahkan kaum anda. Tapi inilah pandangan yang saya temukan di kehidupan saya.

Dengan urutan yang semakin ke bawah semakin kuat, saya tempatkan waria sebagai kaum terkuat….. dan… menakutkan untuk saya :D .

Saya lebih berani dihadapkan harus menuruni sebuah luweng yang dalamnya lebih dari 200 meter daripada harus berhadapan dengan waria. Saya lebih memilih makan indomie yang diaduk dengan seratus cabe rawit daripada disuruh menggebuki waria.

Sumpah… saya takut sekali dengan banci. Yang mannernya ke-wanita-wanitaan tapi tenaganya seperti tukang batu dan casingnya masih bawaan orok, berotot…. Oh.. Tuhanku…

Beberapa pengalaman ajaib saya menghadapi waria :

Pertama. Awal-awal tahun saya kuliah di Jogja, tengah malamnya saya iseng keluar jalan-jalan sendirian menggunakan sepeda. Saya bersepeda dari Blimbingsari hingga kantor Samsat Kota Jogjakarta. Saya melihat waria-waria yang sedang menunggu job di pinggir jalan. Tiba-tiba saya dipanggil-panggil, “mas sini yuk”, “ayo mas”. “Eeeee… buset… ni gw pake sepeda cuy! Belum gw bawa mobil”, saya kira mungkin karena saya hanya menggunakan sepeda tidak akan ditawari oleh para waria itu. Saya diamkan saja ajakan mereka sambil berlalu. Ternyata… ada satu waria yang setengah berlari mengejar saya. Waria yang bibirnya berwarna merah tebal dan menggunakan eye shadow berwarna terang itu mengejar tanpa saya tahu apa alasannya. Astagfirulloh… sumpah itu saya ketakutan dan anda tahu sendiri, kecepatan sepeda itu seperti apa sih. Alhamdulillah.. saya berhasil kabur dan hidup bahagia hingga saat ini.

Kedua. Tetap di awal tahun kuliah di Jogja, tepatnya ketika mudik lebaran. Saat itu antusiasnya saya mudik ke rumah untuk pertama kali. Merasakan mudik seperti orang-orang lain. Berhubung saya mudik bersama teman-teman sekota saya, kami pilihlah kereta ekonomi Progo. Ya.. hitung-hitung merasakan pertama kali naik kereta ekonomi deh. Dengan kondisi setiap bangku yang ditempati tiga orang, saya duduk paling luar atau dekat dengan jalan karena teman-teman saya berebutan duduk dekat jendala. Ah.. saya pikir tidak masalah juga duduk samping jalan. Nyaman-nyaman saja kok.

Ternyata saudara-saudara, dugaan saya salah. Sepanjang jalan saya diganggu oleh pengemis, penjual dan tentunya w-a-r-i-a. Innalilahi rojiun.. ini toh yang teman-teman saya hindari. Masalah pengemis dan penjual sih gampang saya atasi, tapi waria? Ugh.. Melihatnya saja saya sudah takut. Apalagi kalau mereka menggunakan tank top tapi mempertontonkan bisepnya yang berotot ( dan jauh lebih berotot daripada saya ) dan gitar betot kotak yang semua senarnya bernada do, yang saya bayangkan digunakan untuk membuat pingsan seseorang dengan cara disambit bila ada yang tidak memberikan uang.

Bisa saya hitung ada berapa waria selama perjalanan delapan jam dari Jogjakarta ke Cirebon. Untung.. ada teman wanita saya yang bisa menghandlenya. Alhamdulillah lagi.. saya masih bisa hidup damai hingga hari ini.

Ketiga. Ini mungkin terjadi beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya menunggu lampu merah di perempatan jalan Taman Siswa. Dari jauh saya perhatikan seorang “cowok” dengan senjata mautnya, krecekan, dan mengenakan (lagi-lagi) tank top dan syal bulu warna pink. Tapi yang ini wajahnya masih murni wajah cowok, belum ada operasi apa-apa. Dan saya rasa kalau dia benar-benar berpakaian pria, “cowok” ini pasti ganteng.

Ketika lampu sudah hijau, motor saya melalui “cowok” itu. Saya perhatikan detail wajahnya, eee.. beneran.. itu “cowok” aslinya sih ganteng. Tiba-tiba dia melihat saya, “napa lo liat-liat?”. E.. buset.. galaknya boo. Ahh.. saya berkata dalam hati, se-desperate-nyakah orang-orang saat ini dalam mencari pekerjaan, hingga harus seperti itu.

Well.. itu beberapa pengalaman saya dan waria. Jujur.. saya agak risih dengan mereka. Kenapa ketika mereka mengamen, mereka suka sekali memaksa orang untuk memberinya uang. Kenapa harus? Padahal hampir tidak ada yang bisa dinikmati dari mereka. Kecuali kalau mereka memang entertainment sejati. Dan sebesar itu kah putus asa dalam mencari pekerjaan yang lebih baik? Atau mereka sudah nyaman dalam kondisi seperti itu?

Ahh.. tauk dah. Yang saya syukuri saya masih hidup bahagia hingga sekarang :D .

Bookmark and Share
post modern man
 

hmm… gw mengenal istilah ini dari sebuah mag distro yang gw dapat di awal-awal kuliah gw dulu, openmind.

Pada era modern, orang-orang bekerja di kantor-kantor atau pabrik-pabrik dengan jam yang ditetapkan, biasanya antara 08.00 – 16.00. Mereka bekerja – paling tidak – lima hari dalam seminggu. Pakaian mereka pun diseragamkan, atau – paling tidak – distandarkan kerapihannya. Komunikasi orang-orang modern dengan orang disekitarnya biasanya agak terbatas karena waktu mereka kebanyakan dihabiskan di tempat kerja ( meskipun banyak juga yang tidak bekerja ketika mereka berada di tempat kerjanya ), sedangkan waktu mereka di rumah digunakan untuk istirahat. Mereka sulit mengambil peran di luar peran mereka sebagai pekerja. Kadang, hubungan mereka dengan keluarga dan tetangga pun kurang optimal. Strees, frustasi, hubungan yang kaku bahkan kurang harmonis dengan orang-orang sekitarnya kadang-kadang menjadi hal-hal yang akrab dengan orang-orang modern.

Selain itu, di era post modern ( mungkin masih peralihan dari era modern ), orang melirik untuk bekerja namun tidak terikat dengan jam kerja yang kaku dan standar pakaian. Mereka, orang-orang post modern, memilih untuk membuka usaha atau bekerja di rumah dengan konsep small office – home office. Mereka tidak terlalu direpotkan untuk mencari tempat strategis untuk dijadikan kantor. Bahkan, tempat manapun bisa dijadikan kantor. Mereka bisa menerima surat via email, mereka bisa menerima telepon di mana pun mereka berada karena teknologi informasi telah menyediakan fasilitas telepon kantor yang bisa dibawa kemana-mana (mobile), mereka membuat website agar perusahaan mereka dengan mudah dikenal banyak orang (kapan nih openmind bikin web site? masa’ magz sekeren openmind ga punya website?).

open mind mini magz

Di saat orang-orang modern bekerja di kantor, orang-orang post modern mungkin sedang berjalan-jalan keliling kota ( atau kampung ), sendirian, bersama rekan, atau keluarganya. Mereka berjalan-jalan dengan pakaian sesukanya, entah cuma kaos oblong dan sendal jepit atau yang lainnya. Suatu ketika mungkin mereka (orang-orang post modern) terlibat perbincangan santai di halte, bis kota, kereta api, kedai kopi, kampus, masjid, pangkalan becak atau ojek, swalayan, tempat duduk depan wartel, boulevard, pinggiran lapangan, dan tempat-tempat lain dengan orang yang baru ditemuinya. Dalam perbincangan tersebut, banyak sekali yang bisa dilakukan; berbagi wawasan bisnis, peluang bisnis, berbagi keceriaan ( dan juga kesedihan ), sampai pada berbagi pemahaman mengenai bagaimana semestinya menyikapi dan menjalani kehidupan. Tidak jarang dari obrolan santai tersebut terjadi kesepakatan-kesepakatan, entah untuk mengadakan kerjasama bisnis maupun untuk berbagi ide lebih lanjut, atau bahkan membicarakan penyatuan dua keluarga ( tau kan maksud gue ?!)

Tapi yang lebih penting dari semua ini, dengan fleksibilitas jam kerjanya, orang-orang post modern bisa lebih leluasa mengambil peran-peran lain dalam kehidupannya selain hanya bekerja, yaitu membangun hubungan yang harmonis dengan keluarga ( baik yang jauh maupujn yang dekat ) dan tetangga, mengupdate wawasan dengan membaca buku atau menghadiri seminar maupun training, terutama mengambil peran dalam upaya perubahan masyarakat menjadi masyarakat yang ideal agar segera terwujud.

Saya berharap, kalian bisa menangkap tulisan singkat ini. Bekerja memang tidak harus menunggu lulus sekolah atau kuliah, bekerja tidak harus di kantor ( atau punya kantor ), bekerja tidak harus berpakaian layaknya borjuis. Melainkan, kita bisa bekerja mulai sekarang, membangun usaha mandiri, tanpa harus melalaikan tanggungjawab kita yang lain.

Tulisan ini adalah pandangan saya yang mengklaim diri sebagai post modern man ( orang lain mungkin menganggap saya pengangguran, hehe…). Tentu saja saya sangat bisa menerima bila ada yang berpendapat lain, terutama dari orang-orangyang lebih suka menjadi orang modern. Saya memahami, selera orang berbeda-beda. Namun yang penting menurut saya, menjadi manusia modern maupun post modern, kita tetap tidak boleh melalaikan tanggung jawab kita sebagai hamba dari Penguasa Alam Semesta. Mudah-mudahan, tulisan saya ini tidak sepenuhnya salah [bandith].

Openmind ed. 13

Ketika gw membaca ini di pojokan kamar kos, betapa terinpirasinya gw untuk hidup seperti itu. Kehidupan yang tidak diikat dengan jam-jam.

Keluarga gw sebagian besar adalah bukan orang-orang kantoran kecuali si babeh. Gw dan abang-abang gw terinspirasi dari kehidupan ibu gw yang sebagian besar hidupnya hampir mirip dengan apa yang dijabarkan dari tulisan di atas. Bahkan hingga sekarang, pada umur 50an, tetap beraktivitas seperti biasanya. Ketika ditanya “ma, mama kok ga di rumah aja? “, pasti jawabannya ” gak ah, males.. bikin badan ga enak “, dan terlihat jelas dari aktivitasnya yang pergi kesana kemari disertai dengan si babeh yang sekarang ikut membantu usaha ibu gw.

Bahkan, kemarin gw terima telepon dari si mama

“rip, mama mau jalan ke manado nih, lewat jalan darat lho.. bukan make pesawat, abis itu ke irian deh”, dengan nada menggoda. hahahaha, dari ujung barat indonesia sampe ujung timur semua udah dijelajahi ma orang tua gw.

post modernisme… hmm.. mungkin dengan yang gw bold pertama cukup mewakili definisinya

orang melirik untuk bekerja namun tidak terikat dengan jam kerja yang kaku dan standar pakaian

tidak terikat dengan jam kerja…

tadi malam gw chatting ma teman ouitsource gw ( yang menurut gw masuk ke dalam kategori orang-orang post modern ). dengan pendapatan yang melebihi gaji kerja orang umum, hidupnya tergolong santai. malam begadang dan pagi tidur ( buat yang ngerasa.. sori sori :P eace: ) atau ngojekin bininya kapanpun. Kehidupannya sama sekali tidak diikat dengan waktu, kapanpun dia mau, mungkin bisa saja dia pergi kemana.

standar pakaian…

hahahaha, tebak sendiri deh :D

kemudian yang gw bold kedua

Tulisan ini adalah pandangan saya yang mengklaim diri sebagai post modern man ( orang lain mungkin menganggap saya pengangguran, hehe…)

wahhh!! gw pernah merasakan!!

ketemu teman, trus ditanya gw kemana aja, ya gw jawab saja jujur, ‘di rumah aja kok’, dan gw selalu ditanyakan hal yang sama dengan orang yang beda. walaupun mereka tidak menunjukkan mimik muka yang bagaimana, tapi aromanya terasa kalau mereka berfikir bahwa gw tidak ada kerjaan atau pengangguran :D .

hahaha, ya tak apa-apalah :D

untuk orang-orang yang ingin pindah ke tahapan post modern, intinya berani saja :D … toh hidup juga cuman sekali, manfaatkan saja semuanya. percaya saja bahwa semua ada jalannya, yeah.. semua ada jalannya :) .. percaya yah yah yah :)

hidup orang-orang post modern!!

:beer:

Bookmark and Share